Sunday, 20 September, 2020

Daily Literacy zone

PENGAKUAN


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Ini karyaku. Bagus, kan? Menurutmu lebih bagus mana jika dibandingkan dengan karyamu?”

“Dia sering dipuji karena banyak berkarya, padahal kualitasnya biasa aja. Masih bagusan karyaku. Orang-orang saja yang tidak bisa membedakan mana karya yang berkualitas dan tidak.”

Dalam dunia kerja, apapun itu profesinya, kita selalu membutuhkan penghargaan. Apresiasi. Pujian. Semua ungkapan positif yang bisa memacu semangat kita untuk semakin giat dan terus berkarya.

Hanya saja, tidak semua harapan diapresiasi itu bisa kita gantungkan pada orang lain. Sebab tak semua orang akan sama dalam menilai sesuatu.

Akibatnya ketika kenyataan tak sesuai dengan harapan, maka yang terjadi kemudian adalah rasa kecewa. Apalagi jika melihat orang lain, yang dianggap saingan dan hasil karyanya tidak sebaik kita, malah yang mendapatkan apresiasi ataupun sambutan positif. Kecewa yang akan hadir tanpa ampun, lalu berakhir dengan hilang semangat. Alih-alih semakin produktif berkarya agar bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik lagi, kita malah berkarya dengan hasil asal-asalan. Asal terpenuhi target. Asal pekerjaan beres. Asal bisa segera dapat uang, dan sebagainya.

Baca ini juga, yuk? Aku Oke?

Jika pernah merasa begitu, maka ini saatnya bagi kita untuk introspeksi diri. Coba untuk membenahi kembali tujuan dan motivasi awal saat memulai suatu pekerjaan. Apa yang kita harapkan? Materi sajakah atau hal lainnya.

Sebagaimana yang kita tahu, manusia itu bisa berubah kapan saja. Jika hari ini kita dikagumi banyak orang, besok bisa saja malah dimusuhi. Hari ini dipandang hina, bisa jadi besok dipandang luar biasa. Tak ada manusia yang benar-benar selalu konsisten memuji ataupun membenci. Semua memiliki waktunya masing-masing.

Maka jikalau hari ini yang dilakukan adalah murni untuk menyenangkan orang lain, artinya kita adalah orang yang paling merugi. Rugi dalam segala hal. Uang, waktu, tenaga. Mengapa tidak kita lakukan untuk diri sendiri saja, dalam rangka mengagungkan-Nya? Bukankah tak perlu alasan apapun untuk itu semua?

Pikirkan hal ini. Dia yang menciptakan kita. Dia yang menghidupi kita setiap saat. Tidak berlebihan rasanya jika apa yang kita lakukan setiap saat adalah dalam rangka “membalas budi”. Bersyukur atas semua yang telah dianugerahkan-Nya. Kembalikan semua yang telah diberikan-Nya dalam bentuk yang diharapkan-Nya.

Mari kita lihat, orang-orang yang berkarya, viral, hingga meraup untung bermilyaran tetapi hati mereka hampa, gersang. Sebab yang mereka turuti hanyalah hawa nafsu. Baik hawa nafsu pribadi yang haus akan sanjungan maupun hawa nafsu penggemar mereka yang menuntutnya memenuhi rasa “dahaga” akan karya-karya yang hits namun tiada makna hakiki dan sejati.

Baca ini juga, dong? CARA KEREN MENGHADAPI JULIDERS

Sering sekali ditemukan, orang-orang yang begitu ingin mendapatkan puji dan puja. Segala etika dan nilai moral ditabrak. Nilai agama tak diacuhkan. Tanpa malu memperbincangkan hal-hal tabu di muka umum seolah seperti orang sedang menikmati snack ringan semacam kacang goreng. Serbuan komentar, berbalas canda yang sejenis pun memenuhi kolom komentar. Tertawa berjamaah. Tanpa rasa malu bahkan bangga.

Banyaknya komentar dan respon membuat si penulis merasa dirinya bak selebritis. Tenar. Tanpa sadar, bahwa tulisannya, balasan komentarnya, telah menghanyutkan dan memperdaya banyak orang. Besoknya, dia kembali lagi menuliskan sesuatu yang sejenis dengan berharap komentar akan kembali datang bertubi-tubi. Begitu terus dan terus. Mungkin hanya benar-benar terhenti ketika maut datang mencabut nyawanya dengan paksa. Naudzubillah min dzalik.

Berapa banyak artis luar maupun dalam negeri yang berakhir pada depresi, lari pada narkoba, atau bahkan berujung pada bunuh diri? Semua karena kebutuhan pengakuan tentang dirinya namun yang didapat tak hanya pujian namun juga perundungan. Disanjung, mungkin kuat. Saat di-bully, langsung terjun bebas hingga ke titik nadir.

Menyeramkan, bukan? Seluruh pengakuan itu. Seluruh puja puji itu nyatanya tak ubahnya seperti bom waktu yang siap meledakkan diri kita sewaktu-waktu hingga menjadi serpihan yang terkecil.

Lalu, apakah kita masih juga mau terkecoh? Mengharap label populer dari manusia? Sementara Tuhan sedang menatap murka pada kita?

Salam literasi

26 Agustus 2020

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

2 comments on “PENGAKUAN

Anonim

Setuju.
Cari muka kepada Allah Swt saja.

Reply
DLZ Admin

Yes!
Terima kasih sudah berkenan mampir. 👍🙏

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: