Tuesday, 22 September, 2020

Daily Literacy zone

PENULIS TAK BISA NULIS?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Tak percaya, tapi ini terjadi …. “

Hafal lirik lagu ini, kan? Yup! Lirik dari lagu “Tenda Biru”-nya Desi Ratnasari. Tapi, kita bukan mau membahas tentang tenda biru, ya? Apalagi bahas ditinggal nikah calon istri atau suami di saat sedang sayang-sayangnya. Bukan! Sekali-kali, bukan!

Eh? Jadi ngelantur. Ahahaha.

Lebih tepatnya sih judul tulisan ini seharusnya “Penulis Tak Bisa Nulis Lewat Ketikan Word di Era Digital Serba Canggih Ini?” Cuma berhubung terlalu panjang dan kurang “greget!” jadi cukup diambil yang singkat saja. Semoga tidak mengurangi esensi yang ingin disampaikan penulis yang suka makan nasi padang ini.

Jadi ceritanya beberapa kali ada kejadian kontributor yang gabung di proyek NuBar. Mereka maunya kirim naskah lewat whatsapp (sudah sejak tahun 2018 lalu persisnya kasus semacam ini muncul), meski di syarat dan ketentuan penulisan naskah sudah tertera dengan gamblang dan sangat jelas! Ditulis dalam bentuk “word”, ukuran kertas A4, margin 2-2-2-2, spasi satu setengah, font Times New Roman. Dikirim lewat email (email PJ) pada lampiran (bukan badan email). Maaf ditebalkan, biar jelas.

Baca ini juga: Jenis Tulisan

Para kontributor tersebut beralasan di komunitas lain diizinkan kirim naskah lewat whatsapp. Baik untuk proyek antologi maupun solo. Memang tidak disebutkan nama penerbitnya apa, komunitas di mana. Tetapi qadarullah, hari ini saya diperkenankan Allah untuk “menemukan salah satu dari mereka”. Dari keisengan stalking sebuah akun yang meminta konfirmasi pertemanan di medsos, ternyata memang ada penerbit indie yang terang-terangan memberi kemudahan. Kemudahan yang menurut kacamata saya tidak mendidik sama sekali.

Silakan dilihat di foto yang ada di artikel ini berdasarkan hasil temuan yang faktual. Nama penulis dan penerbit yang “tertangkap basah” saya samarkan biar tidak timbul delik aduan di kemudian hari. Saya sertakan contoh syarat dan ketentuan mengirim naskah dari beberapa penerbit mayor terkemuka. Jangan pula kepo lalu stalking akun FB saya, ya? Karena memang nggak ada di timeline.

Screenshoot sebuah percakapan antara penerbit indie penyelenggara event nulis dengan beberapa peminatnya.

Oke. Lanjut ke bahasan tentang penulis yang nggak bisa ketik tulisannya lewat aplikasi word.

“Saya sudah sering, kok, mengirimkan tulisan lewat whatsapp di proyek antologi komunitas lain. Masa di NuBar nggak diizinkan?” Tetap keukeuh dengan pendapatnya meski sudah ditegaskan oleh saya dan teman pije nulis di grup.

Syarat dan ketentuan pengiriman naskah di Penerbit Gramedia

Duh teman sesama penulis tersayang. Kenapa terus keukeuh sumeukeuh dengan di luar kelaziman yang disepakati secara nasional oleh mayoritas penerbit terutama penerbit mayor, sih? Kenapa pula membandingkan penerbit yang memakai standar jelas dengan penerbit yang tak punya standar jelas?

Sebelumnya saya cuma dengar omongan “katanya” saja dari para kontributor tanpa pernah mendengar mereka menyebutkan nama penerbitnya. Ah, lagipula apa untungnya tahu? Kalaupun tahu, saya pribadi ogah menitipkan karya tulisan pada mereka. Penerbit yang kredibel masih banyak, kok. Terlalu sayang kalau naskah yang berharga dititipkan di penerbit yang … ya, begitulah.

Sobat DLZers. Berani mengaku berprofesi sebagai penulis tapi tidak bisa menulis dalam bentuk word? Padahal word sendiri sudah ada dalam bentuk aplikasi untuk android, bukan hanya untuk aplikasi di pc atau komputer saja. Sangat mudah didonlot –asal kuota internet ada tapinya. Word ini merupakan aplikasi yang sangat mudah dan simpel.

Ada penulis yang masih berpendapat, “Yang penting nulis meski hanya bisa pakai tulisan tangan karena nggak ada komputer di rumah.”

Atau, “Saya kirim voice note ke pijenya. Biar pije yang ketikkan.” Olala, ini pelecehan terhadap jabatan leader proyek nulis, gaes.

Syarat dan ketentuan pengiriman naskah di Penerbit Mizan.

Di zaman apa, sih sebenarnya kita ini hidup, Sobat DLZers? Di saat semua orang bahkan hingga balita sudah memiliki smartphone atau ponsel. Di saat internet sudah menjangkau semua lapisan masyarakat. Di saat di dunia maya bertebaran beragam aplikasi dan platform dengan segala jenis dan kegunaan.

Lalu kita masih beralasan, “Nggak bisa mempergunakan satu, atau dua dari itu semua?” Hmm.

Kalau memang tidak bisa, mengapa mengoperasikan aplikasi semacam whatsapp bisa? Jika komputer tidak punya, aplikasi nulis versi android tidak punya karena ponsel yang dimiliki sudah teramat jadul, bukankah masih ada jasa rental komputer di warnet? Tinggal kitanya mau tidak untuk menguasai salah satu aplikasi menulis yang sangat sangat mudah pengoperasiannya. Saat menyelesaikan tugas akhir kuliah, siapa dong yang mengetikkan TA (Tugas Akhir), skripsi, thesis kita dulu sampai bisa menyandang gelar?

“Saya nggak bisa install aplikasi di komputer.” Ini bisa dianggap alasan terkuat bagi mereka yang merasa gaptek.

Bukankah ada jasa service komputer di sekitaran tempat tinggal kita? Atau di tempat dulu kita beli komputer, tanyakan di mana tempat service-nya. Atau kita bisa minta pegawai warnet untuk membantu meng-install-kan. Ada banyak jalan dan cara jika kita memang punya “tekad dan niat”.

Artikel keren lainnya: Jangan Mau Mahir Self Editing

Yakin tidak bisa? Sibuk beralasan dan mencari pembenaran, bukannya sibuk berupaya menembus batas kemustahilan versi diri sendiri. Buktinya orang lain bisa? Masa kita nggak? Sama-sama dianugerahi Tuhan otak dan kemampuan yang oke. Masa iya nggak bisa? Coba, deh. Berhenti mencari pembenaran dan tanya diri sendiri. Jawab dengan jujur. Tidak bisa? Tidak mau? Malas? Nggak suka yang ribet? Usia jadi kendala? Bisa bayar pakai uang untuk jasa pengetikan?

Begini saja, ya? Lebih baik jika untuk menguasai aplikasi khusus untuk menulis saja tidak mau dan banyak alasan, dalih, argumen, … bla bla bla dan seterusnya, mendingan jangan jadi penulis, deh, Mas, Mbak, Bu. Make it simple. Penulis masa tidak bisa menulis? Apa kata dunia, DLZers?

“Admin dan pije proyek nulisnya mau bantu mengetikkan, kok. Mereka siap bantu. Nggak masalah.”

Nggak masalah bagaimana, Ferguso? Mau sampai kapan bertahan dengan habit seperti itu? Mau sampai kapan dibantu? Dijamin, selamanya karir kita bakalan terus stucked di penerbit ecek-ecek. Kenapa disebut ecek-ecek? Sebab, penerbit yang profesional, high standart, mana mau menerima penulis gaptek bin malas seperti itu?

Asal Sobat DLZers tahu, ya? Penerbit yang memberikan bantuan dengan menawarkan plus jasa pengetikan naskah, itu adalah penerbit yang “sepi job“. Sehingga, supaya banjir job atau orderan, mereka rela melakukan berbagai cara menghasilkan pundi-pundi rupiah. Salah satunya dengan menyediakan jasa pengetikan. Kalau dipikir-pikir, apa bedanya dengan jasa rental komputer atau warnet?

Nggak percaya? Silakan coba kirim naskah lewat whatsapp untuk penerbit-penerbit sekaliber Gramedia Pustaka Utama, Bentang, Mizan, dan sebagainya. Diterima atau tidak? Dipandang sebelah mata atau diterima dengan sukacita? Bahkan penerbit indie rasa mayor yang sudah cukup punya nama saja tidak mau menerima tulisan yang tidak sesuai aturan standar. Meski isi naskahnya luar biasa bagus. Itupun kalau mereka mau menyempatkan diri baca.

Mau tahu fakta-fakta mencengangkan yang saya temui di lapangan,DLZers? Bahwa ada penulis, yang memiliki kekurangan pada mata, fisik organ tubuh, atau bahkan tidak pernah menamatkan pendidikan dasarnya, nyatanya mereka””memenuhi syarat dan ketentuan proyek nulis!” Mereka tidak menjadikan kekurangannya sebagai alasan untuk membenarkan ketidak mampuannya. Justru mereka berusaha agar “bisa”.

Sementara yang beralasan malas, tidak bisa, dan sebagainya adalah orang-orang yang fisik dan penglihatannya sempurna, pun bertitel sarjana hingga berprofesi sebagai tenaga pendidik!

Sebuah ironi yang membuat miris, bukan? Apakah saya membual? Tidak! Sama sekali, tidak! Ini fakta. Fakta yang sungguh-sungguh memprihatinkan.

Jadi? Pikirkan baik-baik. Sekali lagi. Dengan matang dan kesungguhan diri. Buang dan tepis semua ego diri dan jawab pertanyaan di bawah ini.

Apakah benar anda serius jadi penulis yang profesional, Sobat DLZers?

***

24 Agustus 2020

Referensi contoh syarat dan ketentuan kirim naskah:

mizanpublishing.com

www.google.com

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva dan koleksi pribadi

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

4 comments on “PENULIS TAK BISA NULIS?

Bukannya mengetik di WA lebih repot, ya? Gimana ngedit ulangnya, tuh. Kalau tiba-tiba ada ide untuk perbaiki paragraf di atasnya, apa terus copy-paste ulang?

Reply
DLZ Admin

Nah, betul sekali, Mbak. Entahlah. Kenapa mereka memilih begitu.

Reply

Saya baru tau ada penulis model begitu. Kalau niat mau jadi penulis masa nggak mau usaha sih? Minimal download app word di hp, kayaknya jaman sekarang hpnya udah pada android deh, toh bisa punya WA hehe

Reply
DLZ Admin

Ini pengalaman nyata. Kata yang memberitahukan hal ini ke saya, memang begitu. Makanya keukeuh pengen ngirim lewat WA. Nggak mau kalau lewat ketikan word via email karena tidak terbiasa. Baru percaya setelah nemuin sendiri. Miris memang. 😅😔

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: