Sunday, 20 September, 2020

Daily Literacy zone

PEREMPUAN WAJIB PINTAR!


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Sayang banget pendidikan dia S2 tapi hanya jadi ibu rumah tangga. Udah mahal bayar sekolahnya, nggak menghasilkan apalagi balik modal.”

“Perempuan itu nggak perlulah tinggi-tinggi sekolahnya. S1 cukup. Paling nanti ujung-ujungnya kasur, sumur, dapur!”

Komentar-komentar miring yang ditujukan pada wanita seperti 2 contoh di atas, sesekali masih terdengar. Mendiskreditkan potensi perempuan, di tengah masyarakat yang menganut sistem parietal.

Tapi kali ini kabar gembira untuk kaum wanita yang berpendidikan tinggi yang tidak memilih berkarir di luar rumah melainkan merelakan diri menjadi Ibu Rumah Tangga. Suatu kabar yang bisa jadi akan meruntuhkan stigma-stigma negatif tersebut.

Sebagaimana yang kita ketahui sejak diberlakukannya lockdown dan PSBB, maka sekolah-sekolah formal mulai menerapkan school from home dan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Tentu saja sistem pembelajaran ini dilakukan via daring. Beragam platform dan aplikasi online mulai familier dikenal dan digunakan baik oleh praktisi pendidikan, anak didik, orang tua, dan masyarakat luas.

Disadari atau tidak, penerapan belajar sistem daring faktanya menimbulkan gejolak baru. Yaitu keluhan dari para ibu. Dari mulai pengaturan waktu belajar yang bertabrakan dengan waktu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, menyediakan kuota, cara mengoperasikan platform-platform online, hingga membantu dan mendampingi buah hati saat mengerjakan tugas sekolah.

“Anak saya mogok mengerjakan tugas, Bu guru. Jadi saya harus berupaya membujuknya agar dia mau mengerjakannya.”

“Bu guru, maafkan. Anak saya belum mengerjakan tugas satupun. Jika tidak bisa setor tugas tepat waktu, maka salahkan saja saya karena tidak bisa membuat anak disiplin.”

Masih banyak lagi beberapa keluhan lainnya yang terungkapkan di grup-grup chat orang tua murid dengan para guru di sekolah. Betapa hal ini menunjukkan bahwa peran ibu sebagai pendidik di dalam rumah tangga mutlak perlu dan harus dibekali dengan stok gudang ilmu yang mumpuni juga.

Bagaimana tidak? Tingkat pendidikan ibu secara tidak langsung dapat mempengaruhi tingkat dan kesadaran motivasi anak untuk belajar. Seorang ibu yang pintar, pasti takkan menyerah begitu saja tatkala menemukan kendala dalam proses belajar mengajar di rumah. Dia akan terus berinovasi, mencari-cari cara bagaimana agar anak-anaknya bisa belajar dan mengerjakan tugas tepat waktu. Dia yang pertama kali akan memperkenalkan platform-platform via daring kepada anak agar anak bisa dan mampu.

Tentu saja kemampuan mengolah aplikasi-aplikasi di internet akan terhambat jika ibu gaptek. Sementara di saat anak kesulitan belajar di rumah, siapa yang akan dimintai bantuan pertama kali kalau bukan ibunya? Itu dari sisi teknologi.

Dari sisi keilmuan, ibu yang berpendidikan tinggi akan seminimal mungkin meminta bantuan para guru untuk mengerjakan tugas sekolah. Seperti yang kita ketahui, di zaman anak-anak kita ini pelajaran yang mereka terima lebih sulit daripada zaman kita dulu. Pelajaran saat kita di SMP dulu, kini sudah diberikan pada anak usia SD. Pelajaran SMA dulu, sudah diberikan pada anak usia SMP di masa kini.

Apa yang akan terjadi jika ibu hanya lulusan SD, SMP atau bahkan tidak pernah lulus SD sama sekali? Proses belajar lebih terhambat dikarenakan ibu akan berulang kali meminta bantuan gurunya atau bahkan menyerah begitu saja karena anak dan ibu sama-sama tidak bisa mengerjakan ataupun mengerti sekalipun sudah dijelaskan oleh guru. Sebab temu muka dengan online pasti lebih enak diskusi dengan tatap muka, bukan? Belum lagi kalau sinyal internetnya seperti kura-kura. Merayap lambat dan sering loading. Jika hal ini terjadi maka target-target yang harus dicapai anak dalam KBM takkan terpenuhi.

Tidak mungkin juga meminta bantuan para ayah karena tidak semua ayah (juga) menguasai ilmu-ilmu tersebut dan tidak semua (mau) bisa menyempatkan waktu mengajari anaknya karena dikejar tuntutan untuk menafkahi keluarganya lewat bekerja. Jadi tetap solusi tercepat dan terdekat adalah (lagi-lagi) lewat seorang ibu. Yes! Ibu adalah (faktanya) memang dituntut untuk menjadi super woman sekalipun hanya bekerja atau berprofesi sebagai IRT.

Jadi, kendala-kendala seperti memotivasi anak agar mau belajar, mengerjakan tugas tepat waktu, dan menyelesaikan soal-soal yang sulit sekalipun bisa teratasi jika sang ibu bukanlah ibu (biasa) tetapi ibu yang luar biasa. Sebab ibu yang pintar sekaligus cerdas, akan berupaya semaksimal mungkin agar anak dan dirinya bisa beradaptasi dengan sistem pembelajaran yang tidak normal (baca : via daring). Ibu akan bisa mengadaptasi cara-cara yang dilakukan oleh para guru dalam mendidik anak-anaknya.

Sekali lagi. Ibu adalah madrasatul ula bagi anak-anaknya. Pendidik pertama dan utama. Peran yang tak bisa digantikan (seharusnya). Sementara guru hanya membantu mengarahkan dan mengembangkan potensi anak lewat ilmu dan pengalamannya. Sehingga tetap perlu ada sinergi antara ibu dan guru dalam proses belajar baik di sekolah maupun di rumah.

Menjadi wanita pintar dan cerdas dengan sederet gelar-gelar sekalipun ujung-ujungnya berakhir (hanya) sebagai IRT? Tentu saja mutlak “perlu”!

Wallahu alam bishawab.

***

Editor: DLZ’ers

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

2 comments on “PEREMPUAN WAJIB PINTAR!

riafauzie

Bismillah, tetap semangat jadi bu guru di rumah dan sekertaris pribadi.

Reply
DLZ Admin

Semangat selalu buat perempuan-perempuan hebat (termasuk kita, insya Allah) 🤭💪💪

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: