Thursday, 22 October, 2020

Daily Literacy zone

KENAPA NGGAK BER-SKILL EDITING?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Urusan ngedit? Sekalianlah kerjain sama editor penerbit. Kan pada dibayar untuk ngedit?”

“Saya belum bisa ngedit. Harap maklum ya,Mbak?Maafkan jika tulisan saya masih berantakan.”

Sobat DLZers tahu nggak, sih? Beberapa penulis mengakui kalau mereka tak punya kemampuan self editing, sehingga seringkali mengirim naskah apa adanya. Sekali dua kali sih tak apa. Tapi kalau berkali-kali dan terus melakukan kesalahan, ada beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi.

Pertama. Tidak semua paham jika yang namanya penulis selain bisa menulis juga harus bisa merapikan minimal tulisannya sendiri. Ada yang terang-terangan meminta editor atau dewan redaksi saja yang mengerjakan tahap editing. Jika di penerbit indie, masih bisa nego. Tapi di mayor? Editornya sibuk melototin tak hanya ratusan, bahkan mungkin ribuan naskah yang masuk. Mereka tak punya banyak waktu untuk mengedit setiap naskah yang masuk. Jadi jangan coba-coba kirim naskah jika kondisinya masih berantakan. Bisa-bisa naskah kita langsung di-delete-nya tanpa ampun.

Kedua. Merasa tidak sempat atau tidak memiliki banyak waktu untuk mengasah kemampuan self editing-nya. Alasannya bisa karena kesibukan sehari-hari, sibuk bekerja di profesi lainnya, dan sebagainya. Miris nggak, sih? Di satu sisi ingin menjadi penulis yang hits, tapi tak pernah menyempatkan waktu untuk belajar ngedit Kira-kira, bisa terwujud nggak tuh cita-citanya? Kayaknya mustahil bin mustahal, ya? Hehehe.

Baca juga RAGAM PROFIL PENULIS https://dailyliteracyzone.com/ragam-profil-penulis/

Ketiga. Memaklumi diri sendiri dan menganggap ketidakmampuan self editing adalah sesuatu yang wajar. Padahal anggapan ini benar-benar salah kaprah, Sobat DLZers sekalian. It’s absolutely wrong! Akibat terlalu banyak memaklumi keterbatasan diri, akhirnya tak ada usaha untuk memperbaiki diri. Buat orang Indonesia, kadang masih ada yang memiliki sopan santun untuk berbasa-basi memohon pemakluman. Sekali lagi, di penerbit indie masih dimaklumi, tapi jangan coba-coba di penerbit mayor, ya?

Keempat. Menganggap pekerjaan mengedit itu membosankan, melelahkan, menjemukan, dan beribu stigma negatif lainnya. Maka tak heran jika sedikit sekali penulis yang totalitas dalam berkarya. Isi naskah bagus, tapi penulisan berantakan. Diberi masukan beberapa kali, mengikuti beberapa kelas ngedit, mendapat setumpuk materi ngedit, namun habit tetap tak berubah. Harusnya dipikirkan kembali. Jika menganggap mengedit adalah aktivitas yang menyebalkan, lantas apa kabar reaksi editor yang melihat naskah kita datang pada mereka dalam keadaan … berantakan!

Baca yang keren ini juga, dong Intip Karaktermu Lewat Nama Penulismu

Kelima. Beranggapan bahwa memiliki skill ngedit adalah hal yang cuma bisa dikuasai orang lain dan kita “tidak”. Wah, ini apalagi sebuah kesimpulan yang tidak berdasar sama sekali. Kenapa? Sebab teknik-teknik editing itu bisa dipelajari dan semua bisa melakukannya. Tinggal adakah kita siap untuk lebih tekun, telaten, dan sabar saat berproses menjadi editor bagi tulisan sendiri? Jika sudah merasa cukup siap, apalagi tulisan kita lolos penerbit mayor dengan sedikit koreksi, artinya sudah bisa “beneran” jadi editor, lho. Keren, kan?

Jika kita menganggap suatu pekerjaan itu sulit untuk dilakukan, maka ya! Pekerjaan tersebut akan benar-benar sulit dikuasai. Tetapi jika kita menganggap semua hal itu bisa dipelajari, apalagi menyangkut profesi yang sedang dijalani saat ini, maka berhentilah mengatakan “tidak bisa” menjadi “yakin pasti bisa!” Maka insya Allah, Allah akan memberikan kemudahan. Aamiin.

Mari persiapkan diri dan mental kita. Move on, yuk? Andalkan diri kita sendiri jika ingin … ingin apa? Ingin sukses pastinya, dong! Semoga bermanfaat.

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

One comment on “KENAPA NGGAK BER-SKILL EDITING?

[…] Baca juga : KENAPA NGGAK BER-SKILL EDITING? […]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: