Sunday, 25 October, 2020

Daily Literacy zone

QUALITY CONTROL TULISAN, PERLUKAH?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Senangnya saat penulis A gabung di proyekan nulis. Skill-nya sudah tidak diragukan. Aktif nulis di berbagai komunitas. Pasti kalau gabung, bakalan bikin proyek nulis yang saya garap jadi istimewa.” Ini antuasiasme dan ekspektasi.

“Nulisnya kok seperti penulis yang baru nulis, ya? Tulisan dibuat menggantung tapi terkesan belum selesai. Banyak typo, banyak editan, dan sebagainya. Ini beneran si A yang nulis? Apa nggak salah kirim? Hasilnya mengecewakan!” Ini realita yang terjadi kemudian.

“Sebentar … sepertinya saya nggak asing dengan isi tulisan ini. Sepertinya pernah dimuat di media lain, hanya diubah sedikit. Tapi intinya tetap sama. Memangnya si penulisnya nggak punya stok tulisan yang lebih fresh?” Lagi-lagi ini realita.

Jika di dalam bidang pelayanan jasa atau barang non literasi yang namanya quality control mutlak perlu maka dalam bidang literasi hal ini pun sangat perlu. Kenapa perlu? Berikut beberapa alasannya:

Pertama. Dari personal branding yang dikenal oleh masyarakat, seperti itulah kualitas yang tersematkan pada diri kita. Jika kita dikenal wara wiri di sana sini tetapi kualitas hasil karya kita payah, maka tingkat trust and antusiasm pembaca terhadap tulisan yang kita buat pastinya akan perlahan menurun. Pembaca sudah terlanjur mengenali kita dan langsung membayangkan tulisan yang pernah kita tulis. Jika selalu menghasilkan tulisan asal jadi, maka frame itulah yang terekam dalam memori semua pembaca. Jangan harap tingkat antusias mereka akan selalu menyala.

Kedua. Berhati-hatilah jika ada sesama penulis yang menyanjung, memberi label kepada kita sebagai expert, senior, atau mentor dan sebagainya. Artinya, pamor kita benar-benar diperhitungkan oleh masyarakat dan jangan pernah dirusak oleh satu hal remeh. Masyarakat secara otomatis akan mengharapkan kita selalu menjadi yang terdepan dalam hal kualitas. Dinilai oke, dan sebagainya. Mereka akan selalu menunggu dan menunggu, kira-kira hal menarik apalagi yang akan kita suguhkan berikutnya.

Ketiga. Kontrol selalu hasil karya kita. Apakah benar bermanfaat ataukah hanya sekadar memenuhi hawa nafsu atau menyelesaikan target maupun deadline. Benarkah sudah memberikan hasil yang maksimal atau belum? Tak ada orang yang mau mengeluarkan uang dan kuota hanya untuk membayar karya yang sifatnya “sampah” atau jauh dari kualitas yang oke. Jadikan ciri khas baik yang selama ini sudah tertanam dalam memori semua orang tetap eksis keberadaannya.

Keempat. Jangan pernah meremehkan pembaca khususnya dan masyarakat umumnya. Memang benar standar kualitas atau selera orang berbeda-beda, tetapi percayalah, karya terbaik dan berguna takkan tersia-siakan atau terbuang begitu saja. Karya murahan mungkin ada yang menarik seperti konten-konten bermuatan pornografi, tetapi biasanya umurnya takkan lama dan membawa dosa jariyah bagi penulisnya. Sementara yang namanya konten ilmu atau yang bermanfaat akan selalu dicari dan takkan lekang oleh waktu. Pun, amalan jariyahnya akan terus mengalir selama masih ada yang membaca tulisan kita.

Kelima. Jangan khianati penggemar karya kita. Selalu usahakan berikan karya terbaik di manapun, dalam kondisi apapun dan di saat kapan pun. Sekalipun “hanya” berupa secuil artikel ringan. Tetap berikan hasil terbaik. Jelas memakai rumus-rumus dasar kepenulisan, rapi, minim kesalahan, dan sebagainya. Perlakukan setiap proyek menulis yang kita ikuti sebagai sesuatu hal yang istimewa. Manjakan pembaca kita dengan tulisan yang memiliki tatanan kata dan struktur yang benar. Agar maksud yang ingin disampaikan mampu diterima dengan baik.

Keenam. Jangan buat partner merasa kapok berkolaborasi dengan kita. Buatlah mereka untuk selalu antusias mengajak kita ataupun menyambut gembira setiap niatan untuk bekerjasama dengan mereka. Insya Allah, pintu-pintu rezeki akan terbuka lebar. Dunia terasa makin lapang. Hari-hari kita semakin sibuk untuk terus berkarya. Yang terpenting dari itu semua adalah, jumlah pembaca yang menggemari tulisan kita makin banyak.

Ketujuh. Selalu miliki visi dan misi yang jelas. Jangan sampai orang enggan berhubungan dengan kita karena malu dikenal sebagai kawan karib kita. Mana ada orang yang senang dikenal sebagai teman dekat atau sahabat dari penulis cabul, penulis bermulut besar, dan sebagainya. Pasti sahabat-sahabat terdekat kita akan senang untuk dikenal sebagai sahabatnya seorang penulis yang tulisannya selalu berbobot dan bermanfaat. Jauh dari perilaku negatif, dan sebagainya. Jujur saja, kita lebih senang berdekatan dengan penulis yang santun dan minimalis masalah, atau penulis yang kerap memancing keresahan dan bermasalah sekalipun atas nama pekerjaan sebagai tim buzzer?

Saat kita memutuskan untuk menggeluti suatu profesi maka terjunlah ke dalamnya dengan sepenuh hati. Tinggalkan kesan yang baik, yang akan dikenang orang sehingga bisa menginspirasi dan memotivasi mereka. Jangan pernah tergoda untuk merusak apapun yang sudah kita bangun.

Senantiasa waspada. Jaga kehormatan diri. Jangan menuliskan hal-hal yang akan menghinakan diri kita sendiri. Baik di mata Allah maupun di mata manusia.

Panjangkanlah usia lewat karya yang akan diingat kemanfaatannya bagi dunia. Jangan panjangkan usia dengan menghadirkan karya yang memancing tumpukan dosa.

Kita semua akan mati. Meninggalkan perbuatan baik ataupun buruk saat hidup di dunia. Seperti kata pepatah “Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang.”

Salam literasi.

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

6 comments on “QUALITY CONTROL TULISAN, PERLUKAH?

Suratmi Hamasah

Tes komentar.

Reply
DLZ Admin

👍😍

Reply
Sri mustaryanti

Terima kasih atas sarannya semangat pejuang penulis semoga tulisan kita menjadi kebaikan

Reply
DLZ Admin

Aamiin yra. Semangat!! 💪😍

Reply
mirakers114

mantap

Reply
DLZ Admin

👍👍

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: