Saturday, 19 September, 2020

Daily Literacy zone

QUOTE OF THE DAY “IKHLAS”.


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

““Ikhlas itu berat. Mengeluh itu mudah. Kuatkanlah ikhlas dengan tawakal pada-Nya. Ringankanlah mengeluh dengan belajar ikhlas setiap saat.”

-Rhea Ilham Nurjanah-

“Saya sakit hati, setelah bekerja maksimal dan bos tidak melihat kerja keras ini. Tapi malah memuji orang lain yang bahkan bekerja asal-asalan. Saya jadi tidak betah bekerja bersamanya, sebab dia tidak pernah menghargai hasil pekerjaan saya.”

“Saya sudah mendidik anak dengan sebaik-baiknya, tetapi kenapa dia malah menjadi anak yang senang melawan orang tuanya?”

 “Suami saya sibuk bekerja melulu, tidak sempat membantu pekerjaan di rumah. Saya jadi capek sendiri. Mana anak banyak dan masih kecil-kecil. Boro-boro punya “me time”. Yang ada hanya lelah dan lelah.”

Seberapa sering kita mengeluh dalam hidup ini ketika menemukan kenyataan bahwa yang terjadi tidak sama dengan harapan? Seberapa sering kita menjadi mudah naik darah, stres, dan sibuk menyalahkan orang lain atas setiap kekecewaan yang terjadi hari ini?

Baca : Datang dan Pergi

Hanya mengeluh sebab ingin diperhatikan. Hanya ingin dibantu sebab merasa beban pekerjaan maupun kewajiban menggunung. Wajarkah keinginan tersebut?

Tentu saja boleh, tentu saja wajar. Namanya juga manusia. Punya batas kemampuan dan kekuatannya masing-masing.

Hanya saja, bagaimana jika orang-orang yang dituntut ternyata tidak sanggup memenuhi apa yang kita minta? Bisa karena kesibukan mereka, kurang peka, atau mungkin juga menuntut hal yang sama kepada kita. Jadilah hidup yang saling menuntut. Jika demikian, di mana bisa menemukan titik temunya? Takkan pernah!

Jadi sebaiknya yang kita lakukan adalah “ikhlas”. Ikhlas menerima semua kewajiban dan tanggung jawab yang diamanahkan ke pundak kita sekalipun terasa berat. Terima saja dulu dengan sepenuh keikhlasan. Itu langkah pertama. Tak semudah teori memang, tetapi coba dulu saja.

Baca: Quote Tentang Kehilangan

Langkah kedua, tanamkan diri bahwa semua tanggung jawab yang dibebankan di pundak kita adalah bentuk kepercayaan Allah maupun orang lain kepada kita. Coba saja pikir, apakah mungkin seseorang dibebani suatu tanggung jawab sementara dia tidak pernah becus menyelesaikannya? Pasti Allah atau seseorang akan memilih untuk memberikan beban tanggung jawab atau sebuah amanah kepada orang-orang yang kredibel. Yang dianggap sanggup untuk melaksanakannya dan bertanggung jawab. Jadi? Apa tidak mau menjadi orang yang dianggap memiliki kredibilitas tinggi dan kesanggupan yang mumpuni?

Langkah ketiga. Lakukan semua amanah yang diberikan dengan tanggung jawab penuh. Kerjakan dengan maksimal. Jangan lupa untuk selalu mengawali semuanya dengan doa agar Allah SWT memberikan kemudahan dan pertolongan-Nya. Di setiap amanah yang kita tunaikan, ada banyak kebaikan dan manfaat. Insya Allah.

Gambar: Canva

Langkah keempat. Lakukan dulu hal yang paling mudah untuk diselesaikan. Kerjakan satu persatu dengan sabar dan telaten. Pastikan semua terselesaikan dengan baik. Semampu kita.

Kelima. Ingat, kita ini manusia biasa. Bukan superhero yang serba kuat. Jadi tak semua pekerjaan harus diselesaikan jika memang di luar batas kesanggupan kita. Maka inilah saat yang tepat untuk mencoba meminta bnatuan dari orang lain. Jika tak ada yang bisa dimintai bantuan, maka berinovasilah. Cari cara lain. Jadilah kreatif.

Terakhir. Berpasrah diri kepada Allah SWT. Semua yang sudah kita selesaikan dan kerjakan, tak selalu hasilnya terlihat saat ini. Misalnya dalam hal pekerjaan. Jika hasil kerja kita yang kita rasa terbaik tetapi tidak mendapatkan apresiasi dari pimpinan, jangan lantas menjadi patah semangat dan meniru orang lain menjadi bekerja asal-asalan. Tetaplah bekerja dengan standar kualitas maksimal. Suatu saat hasil kerja keras kita ini akan diapresiasi oleh Allah. Apakah tiba-tiba dapat tawaran pekerjaan yang lebih baik dengan penghasilan yang berlipat-lipat dari gaji saat ini misalnya. Balasan tak selalu menanti di dunia, bukan? Siapa tahu kelak di akhirat, pahala kita ternyata menggunung akibat keikhlasan yang sudah kita terapkan saat hidup.

Atau dalam hal mendidik anak. Siapa tahu meski sibuk kerepotan sendiri mengurus anak karena suami sibuk dengan urusan pekerjaannya ternyata terlahir dan terbentuk generasi yang saleh dan salihah dari kesabaran kita sebagai seorang ibu. Mungkin di saat kecil, anak-anak banyak membuat ibunya kesal, tetapi saat sudah dewasa, justru menjadi pelindung sang ibu ketika ada masalah yang datang menimpa. Menjadi anak-anak yang senantiasa mendoakan orang tuanya ketika kita sudah tiada.

Maka sudah siapkah kita untuk ikhlas hari ini dan seterusnya?

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar:

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

2 comments on “QUOTE OF THE DAY “IKHLAS”.

Yaa Allah..maafkan🙏 ternyata kadang masih mengeluh.. 😱 bukan beban, tp kita dianggap kredibel dan mampu melaksanakan tanggung jawab, di urusan pekerjaan maupun keluarga

Reply
DLZ Admin

Betul. Kita dianggap mampu dan itu yang sering luput dari rasa syukur. Semangat terus, Mbak Isna. Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dan kekuatan pada kita. Aamiin aamiin ya rabbal alamiin. 🙏🙏🤩🤩

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: