Monday, 25 October, 2021

Daily Literacy Zone

REKAM JEJAK


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Apa yang tidak lebih menarik dari ketika ada orang yang ingin tahu rekam jejak kita selama mengukir karir di dunia literasi? Apalagi jika kita sudah menelurkan karya. Pasti orang lain yang sama sekali belum menerbitkan karyanya akan tertarik untuk mengikuti jejak kita.

Terlebih jika kegiatan dan karya kita di dunia literasi mampu menginspirasi, memotivasi, dan menggerakkan orang lain untuk ikut berpartisipasi berkarya. Bergabung meramaikan khasanah dunia literasi di Indonesia. Ada amalan jariyah yang siap dipanen kelak, lho.

Maka jangan pernah menyepelekan karya yang telah terukir. Tuliskan, dokumentasikan, sehingga kita tak perlu mengulang-ulang cerita behind the scene setiap buku. Tinggal bagikan link dari akun medsos yang membahas hal tersebut jika ada yang ingin mengetahui perjuangan kita saat merintis karir sebagai penulis. Beres! So simple.

Sayangnya, tak semua penulis terlihat bangga dengan karyanya sendiri. Sedikit sekali yang habis-habisan mengupas, mempromosikan hingga me-review buku-bukunya yang telah terbit. Semua seolah hilang ditelan pergantian waktu. Tak heran jika kita menuliskan pada portofolio kepenulisan milik pribadi, mungkin banyak orang yang terkaget-kaget membacanya.

“Sudah banyak karyanya, tho? Kapan itu nulisnya? Kok, di akun-akun medsosnya nggak ada sedikit pun postingan atau tulisan tentang buku-buku yang sudah terbit?”

Apa rasanya jika kita mengumumkan pada dunia bahwa profesi yang dilakoni adalah penulis tetapi tak pernah memublikasikan satupun hasil karya yang sudah terbit? Akankah dunia percaya? Orang yang kepo dan stalking akun medsos kita juga bisa jadi meragukan kredibilitas kita sebagai seorang penulis. Sebab tak menemukan apapun yang berkaitan dengan karya literasi baik berupa buku ataupun tulisan.

Anggap saja, promosi, review, ulasan kita tentang buku yang sudah terbit sama seperti saat menulis curhat dulu. Bedanya saat ini kita menuliskannya di akun medsos yang dimiliki dan bukan lagi dalam buku harian atau diari. Tuliskan prosesnya, hal-hal tak terlupakan tentangnya, dan sebagainya. Tuliskan selengkap-lengkapnya. Untuk bahan tulisan lainnya atau sekadar tabungan cerita untuk masa depan.

Sebab seperti layaknya anak, ketika penulis “lahiran” bukunya yang terbaru, haruslah menjadi momen yang berharga, berkesan, spesial. Selayaknya memperlakukan mereka seperti anak-anak kita yang sangat dinantikan kehadirannya. It’s should’ve be very impressed moment ever!

Kita tak pernah tahu apakah kelak di masa mendatang akan sempat untuk menuliskan semua kenangan-kenangan behind the scene setiap karya buku yang kita tulis. Entah karena kesibukan atau mungkin usia hidup yang sudah berakhir. Maka tak ada rekam jejak yang bisa kita bagi atau dilihat oleh orang lain.

Mari mulai menuliskannya. Mari menjadikan setiap momen berharga dalam proses menulis sebagai suatu kenangan dan rekam jejak, yang mudah-mudahan bisa menginspirasi dan diteladani oleh orang lain.

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar:

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “REKAM JEJAK

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: