Tuesday, 14 July, 2020

Daily Literacy zone

Review Film “Omar”


(Rev : Rhea Ilham Nurjanah)

Judul film : Omar (Umar bin Khattab “Al Faruq” radhiyallahu anhu)

Sutradara : Hatem Ali (Suriah)

Produser : MBC 1 Group, Qatar TV

Penulis skenario : Dr. Waleed Saif

Genre : Biografi, sejarah, agama, serial

Pemeran : Ghassan Massaoud, Sameer Ismail

Dubber : Assad Khalifa

Penggubah : Walid Saif

Tahun release : 20 Juli-18 Agustus 2012

Jumlah episode : 31

Lokasi syuting : Maroko dan Suriah

Ulasan:

Sebuah film epic kolosal besutan sutradara Hateem Ali, seorang sutradara kelahiran Suriah 58 tahun lalu yang digarap oleh MBC Group asal Dubai dan Qatar Televiosion.  Film ini mengangkat biografi Khulafaur Rasyidin Islam yang kedua setelah Abu Bakar ra, yaitu Umar bin Khattab ra. Dimulai dari kehidupan beliau di masa remaja berusia 18 tahun hingga usia 63 tahun.

Jauh sebelum film ini tayang, konon sudah mengundang reaksi penolakan cukup keras dari masyarakat dan ulama di Arab. Banyak masyarakat dan ulama Arab yang bergabung menolak film Omar karena penokohan Umar. Umat muslim dari Arab berkeyakinan bahwa tokoh-tokoh besar di dalam Islam tidak diperbolehkan untuk diwakilkan dalam figur tokoh manusia yang nyata sebagaimana yang dilakukan oleh pemeluk agam lain terhadap pemimpin besarnya.

Meski mendapat tantangan cukup keras, nyatanya film ini tetap tayang dan diklaim sebagai film kolosal terbesar yang pernah ada di dunia perfilman Arab. Hatem Ali juga lebih memilih ator yang dirasa mewakili ciri-ciri fisik Umar bin Khattab ra dalam diri aktor Suriah, Sameer Ismail yang beragama non muslim. Akting sang aktor memang cukup menawan dan cukup memberi gambaran seperti apakah keseharian pribadi Umar bin Khattab ra.

Mengapa dikatakan atau diklaim bahwa film Omar merupakan serial televisi terbesar yang pernah produksi televisi Arab? Sebab dalam proses produksinya melibatkan kru sebanyak 500 aktor, aktris, dan pemain tambahan. Mereka bekerja selama 180 hari dan menghabiskan dana sekitar 200 juta riyal.

Saat adegan perang pun mereka, para aktor, menghabiskan waktu selama 54 hari dan mengalami luka sungguhan pula. Membutuhkan waktu yang tidak sebentar pula untuk para kru membuat replika Kabah, Kota Makkah, dan Madinah agar menyerupai kondisi di awal-awal penyebaran Islam di zaman Rasulullah SAW.

Terlepas dari kontroversi yang ada, film Omar cukup menarik untuk disimak. Jika kita hafal jalan cerita kehidupan Umar bin Khattab, maka adegan demi adegan di dalam film sebagian besar cukup mewakili perjalanan hidup salah satu tokoh terkenal dari barisan para sahabat Rasulullah SAW tersebut. Isi cerita mampu membuka wawasan kita, memberikan perenungan-perenungan, hingga mampu menghadirkan rasa haru saat menyaksikannya. Semakin terasa nuansa spiritualnya terutama Ketika kita menyaksikannya pada bulan Ramadan seperti halnya tahun ini.

Di Indonesia sendiri, film Omar sudah tayang dua kali. Yang pertama pada tahun lalu di salah satu channel TV swasta yang sama di Indonesia. Pihak MUI juga memberikan apresiasi positif dan merekomendasikan umat muslim untuk menyaksikannya. Film Omar sendiri selain sudah diterjemahkan dan di-dubbing ke dalam Bahasa Indonesia juga sudah diterjemahkan ke Bahasa Turki, Inggris, Perancis dan Timur Tengah.

Wallahu alam bishowab.

***

Tersedia                      : Torrent (Google) atau beli dalam bentuk DVD ke link berikut:

http://www.grosirtutorial.com/serial-tv/jual-film-umar-bin-khattab-2012-omar-the-epic-series-episode-1-30-end

Referensi :

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Omar diakses 3/5/2020

www.kompasiana.com/wanistigfar/5529e84cf17e61c839d623ba/film-omar-ulasan-umar-bin-khattab-ra 17agustus2013   diakses 3/5/2020

https://m.republika.co.id/berita/senggang/film/12/08/28/m9g81d-sempat-ditolak-serial-omar-menuai-sukses diakses 3/5/2020

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “Review Film “Omar”

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: