Sunday, 12 July, 2020

Daily Literacy zone

RIP Kepekaan Kemanusiaan


RIP Kepekaan Kemanusiaan

Faktanya memang benar. Wujud dari “Indonesia terserah” nyata terlihat dan terasa. Bukan hanya sekarang saja tetapi semenjak peraturan lockdown dan PSBB diberlakukan. Bahkan, seiring dengan santernya isu seputar “Herd Immunity” dan wacana pemberlakuan “New Normal” reaksi masyarakat sungguh semakin “entah”.

Miris, saat melihat tayangan berita di televisi yang mengabarkan bahwa tempat-tempat wisata penuh oleh wisatawan domestik. Terutama saat lebaran pertama dan kedua. Jalanan tetap macet. Beberapa “Check point” ikut absen alias menghilang. Kalaupun tetap ada, tak seketat hari biasanya. Meski setelah lebaran kedua usai pemberlakuan penjaringan ketat kembali aktif di wilayah-wilayah zona merah.

Miris, karena masyarakat berkerumun. Bergerombol di tempat-tempat fasilitas umum. Sengaja mempertontonkan aktivitasnya dan meng-upload-nya di medsos. Sekalipun alasannya daerah domisili atau yang dikunjungi adalah zona biru, yang terbilang aman. Namun siapa bisa memberikan jaminan bahwa area tersebut akan terus aman?

Mereka mungkin sudah kebal, muak, bosan, sehingga mati rasa. Mati rasa, tak mampu merasai dan memaksimalkan radar kepekaan terhadap sesama manusia. Bosan, muak, karena merasa “terkurung” di dalam rumah dan lingkungan sekitar. Yang biasanya kesana kemari. Nongkrong sana, nongkrong sini. Bergerombol di sana dan di sini. Berkerumun, berkelompok. Terlepas dari apa kepentingannya.

Kepekaan apa yang hilang? Kepekaan terhadap kemanusiaan. Kepekaan terhadap orang lain yang juga sedang berjuang meredam keinginannya nongkrong, bergerombol, dan berkerumun seperti mereka. Lihatlah para nakes. Yang berkostum layaknya astronot. “Alat Perlindungan Diri” yang super maksimal. Sepatu boot, mantel khusus, sarung tangan, penutup atau helm khusus, hingga masker. Tertutup semua. Tak ada celah yang bisa memungkinkan akses dengan dunia luar sehingga keluhan yang terdengar adalah gerah, panas, tersiksa, tetapi terpaksa. Sampai-sampai di Rusia sana ada perawat yang nekat berbikini di balik mantel khususnya saat bertugas. Demi apa para nakes itu rela berpenampilan selayaknya tentara yang siap berperang melawan alien? Demi tuntutan tugas. Demi tanggung jawab dan rasa kemanusiaan. Demi menyelamatkan jiwa orang lain meski taruhannya adalah keselamatan diri mereka sendiri.

Semua orang pasti tertekan. Semua orang, baik anak-anak, orang dewasa hingga kakek dan nenek pasti merasa tertekan karena aktivitas sangat terbatas dan dibatasi untuk bisa keluar rumah. Tetapi, bisakah bersabar sedikit lagi saja? Tak bisakah diam di rumah untuk mematuhi protokol keamanan kesehatan yang sudah ditetapkan? Bukankah sebelumnya sudah sering mengunjungi tempat-tempat pusat keramaian? Apa salahnya mengerem sedikit kebiasaan tersebut? Bukankah jika pandemi usai, maka hobi tersebut bisa kembali tersalurkan?

Tidak ada kepastian kapan pandemi berakhir sehingga memaksakan diri tetap menjalani kebiasaan hidup berkumpul dengan teman-teman di fasilitas umum meski hanya sekadar ketemuan dan ngobrol ngalor ngidul tanpa ada kepentingan urgen? Ya bagaimana bisa ada kepastian? Disiplin menerapkan protokol kesehatan saja tidak. Yang ada malah selalu melanggar. Wajar jika periode terjadinya pandemi bukannya memendek dan usai tetapi malah memanjang dan tanpa ada kepastian kapan akan berujung.

Jadi? Sungguh jikalaupun “Indonesia terserah, Herd Immunity, New Normall” tetap benar diberlakukan, bersiaplah untuk sebuah proses evolusi. Bersiaplah untuk kemungkinan semakin banyaknya korban yang berjatuhan. Bersiaplah untuk menerima kenyataan bahwa mungkin besok atau lusa, teman-teman, keluarga, anak, atau bahkan kita sendiri yang akan lenyap dari muka bumi ini. Menjadi populasi yang tak lolos seleksi evolusi. Mati berkalang tanah. Mati meski memang sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari.

Just opinion. Could be true, could be wrong.

Wallahu alam bishowab.

***

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “RIP Kepekaan Kemanusiaan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: