Sunday, 20 September, 2020

Daily Literacy zone

SAAT BUNDA TEGA


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Oke, sekarang Nurul sudah kelas 4 SD, kan. Sudah waktunya belajar nyuci sendiri baju-bajunya, ya?”

“Kenapa?”

“Biar pintar. Teteh dan Mbak juga sama, kok. Sudah Bunda ajarkan mencuci baju sendiri. Bahkan kemarin waktu puasa dan nginap di rumah Eyang Putri, Dik Azzam sudah Bunda izinkan mencuci bajunya sendiri. Ingat kan? Kalian nyuci dan duduk berdampingan di dekat keran air?”

“Ya tapi itu kan di rumah eyang, Bun. Di sini kan bukan rumah eyang.”

“Yang namanya pekerjaan mau di mana pun sama, Sayang. Malah sebaiknya jangan cuma di rumah eyang aja nyucinya. Di rumah sendiri juga harus, dong. Biar sehat, tubuh harus banyak bergerak. Salah satunya dengan nyuci baju.” Aku tersenyum jenaka sambil mengepalkan tangan kanan dan mengacungkannya ke udara. “Semangat!”

“Kenapa nggak pakai mesin cuci aja? Kenapa harus pakai tangan?” keluh putri ketigaku itu dengan sedikit cemberut.

“Jadi begini. Sebelum bisa mencuci pakai mesin cuci, harus bisa mencuci manual dulu. Jadi kalau mesin cuci rusak atau baju yang mau dicuci kotor banget, bisa disikat dulu menggunakan sikat. Tingkat kebersihan mencuci dengan tangan dan dengan mesin itu berbeda, lho.”

“Ooh, begitu. Oke!” Nurul tersenyum sambil mengacungkan jempol kanannya.

Well, jujur saja, ya? Sebenarnya ibu mana sih yang tega melihat anaknya berpeluh-peluh mencuci pakaian atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya? Sekalipun sekadar mencuci piring atau gelas bekas mereka makan dan minum.

Tapi …. Berdasarkan banyak cerita dan masukan-masukan dari orang di sekitarku bahwa, keterampilan dasar itu memang wajib dimiliki oleh setiap anak yang sudah memasuki usia sekolah. Seperti merapikan tempat tidurnya, mencuci bajunya sendiri, mencuci piring, mencuci gelas, menyapu kamarnya, dan sebagainya.

Suatu hari nanti, keterampilan melakukan semua pekerjaan itu akan bermanfaat, terutama jika anak-anak telah hidup mandiri. Mereka, insya Allah, takkan kesulitan.

“Kalian mau mendengarkan cerita Bunda zaman di asrama dulu? Ada teman yang menyetrika dan langsung gosong! Apa reaksi teman-teman Bunda? Mereka spontan berkomentar, ‘Keliatan kamu nggak pernah kerja di rumah, ya?’ Ada pula yang menertawakan dan meledek. Kalian mau diperlakukan begitu? Kalau Bunda dibegitukan, rasanya malu banget!” Aku menceritakan sedikit pengalaman saat di asrama dulu.

Anak-anak kompak menggeleng. Ya, biasalah. Kalau anak-anak protes dan mulai mogok mengerjakan pekerjaan rumah, maka aku harus mencari cara untuk memotivasi mereka. Salah satunya dengan cerita fakta, bukan imajinasi. Anak sekarang, lho. Lebih suka cerita yang fakta alias benar terjadi daripada yang fiktif. Hehehe.

“Jadi, Bunda melatih kalian itu supaya kalian terbiasa dan bisa mandiri. Saat Bunda sudah tiada, kalian sudah lebih siap. Tidak bergantung pada bantuan orang lain. Sebab kan tidak ada yang tahu apakah Bunda masih hidup saat kalian dewasa.” Aku menambahkan.

“Iya, Bun. Tapi Bunda jangan cepat meninggal, ya?” Putra sulungku menatapku memelas.

“Bagaimana baiknya menurut Allah saja, Aa. Jadi, jangan marah atau kesal kalau Bunda melatih kalian, ya? Bukan supaya kerjaan Bunda jadi sedikit. Itu sih efek samping. Hahaha! Bercanda, atuh!” Aku tergelak saat anak-anak kompak berjingkat dan menatapku gemas.

“Bunda, yaa!” seru mereka sambil ikut tertawa.

Merasa kasihan, nggak tega, biar ibu saja yang kerjakan, dan sebagainya. Itu adalah pemikiran yang memang menunjukkan kasih sayang tetapi tidak mendidik sama sekali. Mau sampai kapan semua harus ibu yang handle?

Berpendapat tega, tak berperikemanusiaan, masih terlalu kecil, nanti saja kalau sudah besar baru diajarkan, dan sebagainya. Itu hanya pembelaan yang membabi buta tanpa dasar yang kuat. Selama anak sudah bisa diarahkan –terutama di usia sekolah– segera arahkan. Tak perlu khawatir dinilai sebagai orang tua jahat. Selow aja, Bunda. Hihihi.

Sekali lagi, mencegah lebih baik daripada mengobati. Mempersiapkan sejak dini lebih baik daripada sudah terlambat untuk memulai segalanya. Asal ingat, jangan hanya mengarahkan anak untuk begini dan begitu tanpa penjelasan yang bermanfaat bagi dirinya. Tetap, perbanyak dialog-dialog positif dan mendidik dengan anak-anak. Kids are good learner, in fact.

Selamat ber”tega-tega”an, Bunda. Good luck!

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Vivo’s picture

dailyliteracyzone.com/ rheailhamnurjanah

0 comments on “SAAT BUNDA TEGA

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: