Sunday, 20 September, 2020

Daily Literacy zone

SAAT DIAM


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Nanti akan kubayar semua yang sudah Ibu keluarkan untukku! Akan kubayar jika sudah bekerja nanti!” teriakku frustasi.

“Tidak perlu! Ibu tidak meminta sepeser pun uang darimu. Kau ingat satu hal. Jika Ibu sudah jompo, tak perlu kau urus! Ibu tidak mau!” Suara geram Ibu cukup membuat amarahku kian menggelegak.

“Lihat saja nanti. Sekarang sebaiknya Ibu segera menuliskan berapa total uang yang sudah dihabiskan untuk merawatku sejak di perut sampai sebesar ini. Aku akan ganti!” Tak mau kalah, suaraku terdengar naik beberapa oktaf.

Ibu menatapku dengan muka memerah. Kedua mata yang biasanya bersinar lembut itu sekarang terlihat garang. Seolah ada jarak terbentang cukup lebar di antara kami berdua.

“Sudahlah, Daffa. Minta maaflah pada ibumu. Tak baik kita berseteru terus seperti ini setiap hari.” Ayah yang sedari tadi hanya menyimak pertengkaranku dengan ibu, tiba-tiba bersuara.

Aku berdiri mematung sambil menekan gerahamku kuat-kuat. Suara ayah terdengar lembut tetapi tegas. Namun, aku tak hendak menurutinya. Aku tak mau berdamai dengan ibu! Aku ingin Ibu yang memahamiku benar-benar.

“Daffa. Sudahlah …. “

Tak kuhiraukan pinta Ayah. Kuambil tas, helm dan kunci motor dengan tergesa. Tanpa pamit, aku keluar dari rumah dan segera melarikan motorku sekencang-kencangnya meninggalkan rumah sejauh mungkin! Mengendarai motor dalam kecepatan tinggi. Salip sana, salip sini. Sungguh seru sambil aku terus memaki dan menyumpah. Rasanya emosiku yang menggelegak membuatku enggan memperlambat laju motorku.

Aku ingin pergi! Ya! Pergi. Sejauh mungkin. Kalau bisa tak perlu pulang lagi. Untuk selamanya! Ya! Selamanya! Meski aku tak tahu harus pergi kemana dan mulai merasa lelah setelah hampir satu jam memacu motorku di jalanan.

Ciiiiittt!!

Suara rem berdecit cukup keras terdengar saat aku tiba-tibs terpaksa mengerem laju motor. Seorang anak kecil berpakaian kumal nyaris tertabrak olehku karena mencoba menyeberang jalan secara mendadak dengan berlari. Anak perempuan berusia kira-kira sepuluh tahunan itu terkejut. Ia terpeleset dan bungkusan yang dibawanya melayang ke udara lalu berhamburanlah isinya keluar sebelum akhirnya sukses berserakan di tengah jalan dan langsung terlindas ban-ban besar milik truk yang sedang melintas.

“Woi! Kalo nyeberang hati-hati, dong!” hardikku.

“Obat ibu!” Anak perempuan itu tak menghiraukanku.

Ia malah menjerit histeris dan melorotlah tubuhnya di atas aspal jalanan. Ia menatap obat-obatan sang ibu yang hancur seketika. Air mata deras membasahi kedua pipinya seketika.

“Maafin aku, Bu …. ” Anak perempuan itu tersedu.

Aku yang semula ingin memakinya mendadak terenyuh melihatnya. Kuparkirkan motor lalu kuajak berdiri dan menepi. Bahaya kalau ia tetap berada di tengah jalan dengan keadaan kendaraan ramai berlalu lalang, kadang dengan kecepatan tinggi pula.

“Lain kali kamu hati-hati, Dik.” Aku menyodorkan tisu untuk mengelap air matanya.

“Ma … maaf ya, Kak. Aku-aku …. ” Anak perempuan itu kesulitan berkata-kata karena diselingi sedu sedannya, sehingga napasnya terlihat sesak.

“Dik, kamu nggak apa-apa, kan?” Aku jadi panik melihatnya.

“Aku nggak apa-apa, Kak. Tapi obatnya Ibu …. ” Terbit kembali isak tangisnya karena teringat kondisi obat yang kini luluh lantak tak bersisa.

(bersambung)

***

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “SAAT DIAM

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: