Thursday, 22 July, 2021

Daily Literacy Zone

SAAT DISEPELEKAN


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers. Jikalau hari ini ada orang yang sebegitu julid dan nyinyir pada kita. Mengaku membenci tetapi selalu menantikan kehadiran kita dengan karya terbaru, mencerca setiap karya yang dibuat, tetapi selalu menguntit setiap kali kita menelurkan karya terbaru, menganggap kemampuan yang kita miliki tak berharga, dan kemampuannya lebih oke, mengatakan karya kita tak layak dipublikasikan, dan memberikan banyak kritik pedas ….

Padahal tak sedikit pun kita pernah berlaku sama pada mereka. Bahkan apapun yang mereka buat, sebisa mungkin kita apresiasi.

Rasanya menyesakkan? Membuat dunia seolah sempit? Tak mengerti mengapa mereka berlaku begitu?

Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya:

Pertama. Ikhlas. Ketika ada orang yang menganggap kita remehan roti, biarkanlah. Tak usah capek-capek dan uring-uringan sendiri. Sebab yang paling berhak menilai kita itu bukan dia.

Dia tak punya tanggung jawab sedikit pun untuk mengatur kehidupan kita. Sementara kita adalah manusia yang merdeka yang berhak mengatur hidup sendiri.

Kedua. Atur napas. Ambil napas panjang pelan-pelan lalu hembuskan juga perlahan. Nikmati setiap hembusan napas yang keluar dan konsentrasi pada diri.

Lakukan beberapa kali hingga ketegangan tubuh mereda dan hati terasa lebih plong. Latihan mengatur napas ini efektif ketika emosi kita mendadak naik. Yang terpenting kita mampu mengontrol diri.

Ketiga. Hindari. Kita boleh menghindari orang-orang toksik dengan menutup semua akses komunikasi dengan mereka. Tak perlu khawatir akan dituding memutuskan tali silaturahmi.

Kita boleh kok memilih dengan siapa akan berkawan. Menghindari dan menjauhi orang-orang toksik adalah pilihan tepat. Orang-orang toksik itu secara psikis hanya akan membawa aura negatif.

Koleksi foto: ig @Masmus83

Jadi bukan hal terlarang bagi kita untuk memilih tidak lagi berteman ataupun bertemu dengan mereka. Sebab ketoksikan mereka jika dibiarkan lama kelamaan bisa memengaruhi hati dan pikiran kita menjadi kotor serta beraura negatif. Lebih baik kita membangun pola pikir yang positif untuk diri sendiri dan menebarkannya kepada orang lain.

Keempat. Cari lingkungan yang sehat. Kita cari lingkungan dan orang-orang yang sehat. Sehat dalam arti bisa memberikan semangat dan aura positif bagi kita. Yang tulus bersosialisasi dan bersilaturahmi dengan kita.

Yang saling mendukung, bukan yang hanya senang dipuji dan disemangati tapi kemudian jadi merasa di atas angin dan berbalik meremehkan kita. Insya Allah kita akan tertular aura positif dari orang-orang non toksik.

Jika jiwa kita happy, maka tubuh dan pikiran juga akan ikut sehat. Sistem imunitas bekerja optimal dan berbagai penyakit bakalan jauh-jauh dari kita.

Kelima. Fokus. Apapun yang orang pikirkan tentang kita, jika tidak sesuai dengan standar kebenaran, tak usah diambil hati. Fokus saja pada karir kita sendiri.

Sibuklah berkarya. Sibuklah mengembangkan diri. Sibuklah mengasah skill kita. Jangan tengok kanan kiri.

Lurus saja. Jangan buang-buang tenaga dan waktu kita untuk hal-hal yang nggak perlu.

Keenam. Produktif. Cara paling keren membalas kejulidan dan penyangsian orang pada kita itu gampang. Cukup dengan banyak menampilkan banyak karya.

Karya yang bermanfaat bagi banyak orang. Karya yang kita buat dengan tulus dan jujur. Bukan karya picisan sekalipun viral. Insya Allah, penilaian terbaik dari Allah SWT akan kita dapatkan.

Ketujuh. Lakukan semua karena Allah SWT. Sebagus apapun karya. Sespektakuler apapun sebuah produk, kalau tanpa menyertai Allah di dalam setiap prosesnya. Takkan ada keberkahan yang kita dapatkan.

Jadi selalu jadikan Dia, sandaran utama, fokus prioritas ketika kita akan melakukan sesuatu.

Semua hinaan, cercaan, kejulidan dari manusia akan terlihat kecil dan remeh. Takkan menyurutkan langkah apalagi membuat nyali kita menciut.

Sobat sekalian. Semoga hilang sudah rasa sesak di dada.

Jangan lupa bahagia. Karena kita begitu berharga. Salam semangat!

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

Masmus83 collection

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “SAAT DISEPELEKAN

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: