Monday, 21 June, 2021

Daily Literacy Zone

SAAT HARUS TANPA SAHABAT


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Sobat Curhat. Apa kabarmu hari ini?

Apakah hari ini sedang merasa sendirian dan kesepian? Apakah hari ini kau merasa tak ada orang yang bisa diajak berbagi rasa?

Apakah kau merasa semua mendekat hanya untuk merogoh secuil manfaat darimu? Apakah kau rasa semua mendekat padamu bukan karena ketulusan dan hanya pamrih.

Apakah kau merasa tak bisa memiliki satu saja sahabat sejati di dunia yang luas ini?

Jika kau merasa betapa menyedihkannya hidupmu sementara di luar sana orang lain dengan begitu mudahnya memiliki banyak sahabat. Orang-orang yang dulu kauanggap sahabat nyatanya tak menghargaimu barang sedikit pun.

Baca ini juga: Ketika Malu Mendekati-Nya Lagi

Lalu saat kausapa mereka, namun tak jua berbalas sapa. Jika mereka dulu menyebutmu sahabat namun begitu enggan membalas pesanmu, membiarkannya membisu di daftar paling akhir, yang bahkan mungkin hanya sekadar dibaca tanpa pernah berniat membalasnya.

Hingga kini kau ingin tahu, apakah yang bernama sahabat sejati itu adalah orang-orang yang selalu datang berkumpul dan berdekatan?

Apakah sahabat sejati itu adalah orang-orang yang membuktikannya lewat keeksisan di dunia maya sementara di dunia nyata tak semanis kelihatannya?

Apakah sahabat sejati itu adalah orang yang ketika bersama kita hanya di saat senang saja?

Apakah sahabat sejati itu adalah orang yang meninggalkan ketika kita sedang merasa susah? Membuang ketika kehadiran kita tak lagi berguna bagi mereka.

Baca ini: Ketika Merasa Hidup Penuh Dendam

Sobat curhat.

Nyatanya tak mengapa jika orang-orang yang menganggapmu sebagai sahabat mereka dahulu, yang memuja mujimu namun kini berlalu.

Bukan hal yang memalukan juga jika hari ini kita sendiri, karena berbeda prinsip dengan “mantan” sahabat-sahabat kita.

Bukankah yang namanya sahabat sejati itu adalah mereka yang selalu bersama dengan kita apapun kondisinya? Bukankah yang namanya sahabat sejati itu bukan hanya yang bersama kita di dunia tetapi juga di akhirat kelak.

Bukankah yang namanya sahabat, berguna atau tidak berguna kita di hadapan mereka, takkan pernah sampai hati membuang begitu saja ketika sudah tak butuh apapun? Apalagi yang tega menyingkirkan kita agar mereka mendapatkan popularitas di hadapan atasan maupun orang lain.

Jadi jika kita “terpaksa” sendiri untuk hal yang baik, kenapa harus merasa susah? Berarti, mereka tak pantas untuk menerima ketulusan dan tak pantas berkumpul bersama-sama kita lagi.

Kehidupan itu selalu berubah-ubah. Seperti halnya bumi yang terus berputar. Kadang tersiram cahaya mentari, kadang terselubung kelamnya malam.

Seperti roda yang berganti-ganti posisi. Kadang di bawah, kadang di atas. Begitulah Allah SWT mengatur hidup ini.

Ada saat orang-orang tertentu datang dan pergi. Mereka pernah hadir dan memberi warna, meski kehadirannya tak selamanya.

Jika kita merasa hari ini banyak ditinggalkan kawan karib, maka tak usah bersedih. Esok hari akan datang kawan-kawan karib yang baru. Mungkin mereka adalah orang-orang yang lebih baik dan mampu membawa kita menjadi lebih baik lagi. Mampu menghargai kita selayaknya manusia seperti mereka.

Terimalah semua yang datang dan pergi dari hidup kita dengan keyakinan bahwa inilah hidup. Kita hanya mengikuti perguliran waktu saja. Nikmati setiap fase dan episode yang datang.

Sobat curhat. Jika hari ini kita merasa tak memiliki teman seorang pun, jangan pernah merasa kesepian.

Bukankah ada Dia yang setiap saat “sebenarnya” selalu bersama kita?Dia itu sangat setia. Tak pernah mengkhianati kita apalagi mengecewakan.

Untuk jiwa-jiwa yang merasa sendiri, kerontang dan dahaga dari sejuknya air surgawi. Sesungguhnya kita tak benar-benar sendiri jika mampu mengenali diri sendiri dengan sebaik-baiknya.

Ada Dia yang selalu menyertai kita setiap saat, setiap waktu. Ada Dia yang tak pernah lelah menatap kita, mendengarkan keluh kesah, kegelisahan, dan kesedihan kita.

Asalkan kita juga tak teramat sombong untuk bisa mendekat pada-Nya. Dia selalu menunggu kita, dan menanti kita mau sejenak berhenti menyibukkan diri dari aktivitas keseharian untuk menoleh dan menatap kembali pada-Nya.

Dialah Dzat yang Maha Tunggal. Sahabat sejati bagi jiwa-jiwa yang merasa sendiri. Jadi, Sobat curhat. Mari mendekat pada-Nya.

QS. Qaf: 16.

“Dan sungguh , Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.”

Jangan lupa bahagia. Karena kita begitu berharga. Salam semangat!

***

Editor: DLZ’s crew

Ilustrator gambar: Muthi Muflihah

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “SAAT HARUS TANPA SAHABAT

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: