Tuesday, 14 July, 2020

Daily Literacy zone

Satu Negeri di Suatu Tempat


Satu Negeri di Suatu Tempat

Mang Ujang menguap lebar. Hari ini sungguh melelahkan. Dari hasil dagangan hari ini, alhamdulillah bisa untuk berbuka magrib sekarang dan sahur besok pagi.

Setelah tak mendapat solusi apapun untuk mengentaskan permasalahan ekonomi keluarga, tiba-tiba Pak Hasan datang ke rumah kemarin. Memberinya sejumlah uang sebagai kompensasi penghentian kerja di proyek lebih awal.

“Saya terus terang juga bingung, Mang. Proyek-proyek saya lainnya juga berhenti. Sekarang hanya mengandalkan toko sembako milik istri.” Pak Hasan menghela napas panjang.

Ujang hanya terdiam mendengar mandornya tersebut bercerita. Dari penampilan terakhir sejak mereka bertemu dua pekan lalu, memang penampilan Pak Hasan tak secemerlang sebelumnya. Biasanya beliau selalu memakai mobil sedannya kemana-mana. Tetapi saat mengunjunginya, Pak Hasan hanya memakai motor yang tidak bisa dikatakan baru. Terlihat dari nomor polisinya yang menunjukkan motor tersebut sudah dipakai beraktivitas sejak empat tahun lalu. Beliau juga terlihat kurusan.

“Mobil sedan yang biasa saya pakai, terpaksa dijual. Murah harganya. Ada sisa setelah dipakai untuk melunasi bahan bangunan yang kemarin sudah terlanjur dibeli. Sisa uang ini yang saya bagikan untuk Mang Ujang dan kawan-kawan lainnya. Memang tidak banyak, tapi semoga bisa dipergunakan sebaik-baiknya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Diputar saja ya, Mang?” Pak Hasan bercerita panjang lebar.

Lagi-lagi Ujang hanya bisa mengangguk-angguk tanpa kata. Amplop di tangannya, setelah Pak Hasan pamit pulang, segera dibukanya. Ada uang sejumlah 1 juta di dalamnya.

“Alhamdulillah …. ” Ujang mengucap syukur, meski untuk sedetik kemudian dia diam terpaku menatap lembaran uang yang ada di tangannya.

Kunaon (kenapa), Kang?” Cucu yang baru selesai menjemur pakaian duduk di hadapannya.

“Ini ada uang ini dari Pak Hasan. Kita harus manfaatkan sebaik-baiknya supaya bisa terus menghasilkan dan tidak habis sia-sia, Neng.”

“Alhamdulillah. Bageur Pak Hasan teh geuningan, nya, Kang? (Baik ternyata Pak Hasan itu, ya, Kang?)”

“Iya, alhamdulillah.”

Ujang tersenyum tipis. Uang tersebut lalu dipergunakan untuk berjualan takjil. Lumayan pembeli tetap ramai meski ia harus menyusuri gang demi gang, jalan demi jalan untuk memasarkannya. Dalam hatinya riuh membisikkan doa khusus untuk Pak Hasan. Semoga lockdown lekas berlalu. Semoga proyek dengan Pak Hasan bisa kembali dimulai dan normal seperti sediakala. Aamiin ya rabbal alamiin.

“Eh, iya, Kang. Ada format pendataan dari RT/RW. Katanya sih untuk nanti pembagian bantuan subsidi buat yang terdampak dari lockdown.”

“Mana, Neng? Coba sini Akang isi. Siapa tau beneran. Meski ceuk Akang mah asa telat. Harusnya dari bulan lalu minta data, teh.” Ujang sedikit bersungut-sungut.

Lambat betul penanganan dari pemerintah. Lockdown sudah memasuki beberapa waktu lalu tapi pendataan baru sekarang. Apalagi kemarin dia lihat di berita tv kalau yang melanggar lockdown didenda jutaan. Yang benar saja! Sudah susah dapat penghasilan, lalu saat berikhtiar kerja keluar rumah malah didenda? Bayar pakai apa dendanya? Daun?

Lalu ada larangan mudik. Ujang yang sudah pasrah tak bisa mudik akhirnya bisa memberi alasan tepat pada orangtua dan mertuanya. Eeh, beberapa hari lalu, kebijakan pemerintah diubah lagi. Mudik diperbolahkan. Katanya sekarang bukan lagi melawan Corona tapi berdampingan dengan si Covid-19. Sungguh aneh sekali aturan tersebut. Ujang jadi bingung akan memberi alasan apa kepada orangtua dan mertuanya. Apalagi dia benar-benar sedang tak punya uang untuk lebaran besok. Sudah bisa makan seadanya lewat warga sekitar yang berbagi nasi bungkus murah saja sudah alhamdulillah. Ada solusi sementara buat menghentikan tangisan anak yang kelaparan.

Ujang sungguh bersyukur, masyarakat masih banyak yang dermawan. Dia mendengar banyak sukarelawan yang membagi-bagikan sembako gratis, nasi bungkus lengkap dengan lauk pauk tapi boleh ditebus dengan harga 2 ribu perak saja. Sungguh rakyat negeri ini banyak uang dermawan dan kaya hati, sementara pejabat-pejabatnya entah kemana. Jangankan memberi bantuan secara merata dari pusat, yang ada yang ada malah berita-berita aneh tak masuk akal.

Dibebaskannya puluhan ribu napi di saat PHK di mana-mana. Alhasil bermunculan berita-berita kriminal di sekitaran lingkungan tempat tinggal Ujang. Entah ada hubungannya atau tidak, tapi kata Mas Paijo sih begitu. Harga barang yang merangkak naik jauh sebelum bulan Ramadan tiba. Pastinya tak mungkin turun lagi. Lalu kemarin dia dengar iuran kesehatan yang dulu katanya tak jadi naik, sejarang jadi dinaikkan. Sekali lagi, mau bayar pakai apa untuk para pengangguran? Daun?

“Saya nongkrong di pos tempat driver online biasa nangkring. Dari pagi sampai malam kadang hanya narik 1-2 penumpang. Itupun bisa dibilang bagus, sebab kebanyakan teman-teman sesama driver malah nggak dapet orderan berhari-hari. Terpaksa diam di rumah akhirnya karena nggak ada uang untuk beli bensin,” keluh Fadil, tetangga di ujung jalan yang berprofesi sebagai driver online.

Hhh. Sungguh berat hidup di republik ini. Si zamrud khatulistiwa yang lama-lama terdengar sebagai hoax bagi masyarakat golongan ekonomi sulit seperti dirinya. Coba dia jadi orang kaya. Bisa terbang ke Arab Saudi atau ke negara-negara maju lainnya yang siap mensubsidi kebutuhan harian warganya meliputi pangan dan kesehatan. Tak perlu melarat seperti sekarang ini.

“Kang, kok malah bengong? Cepetan fiisi. Malam ini sudah harus disetor ke Pak RW katanya.” Cucu geleng-geleng kepala sambil menggendong si bungsu yang baru bangun tidur.

“Bilang gitu, kita beneran kekurangan. Sebab belum punya rumah, belum punya mobil, belum punya kapal pesiar, belum pernah keliling dunia, belum pernah umrah atau naik haji. Gitu, Kang!” Cucu terus berceloteh sambil menyusui si bungsu yang sedikit rewel.

Ujang hanya tersenyum masam mendengar kelakar sang istri. Cucu sudah sedemikian pasrahnya dengan keadaan hingga berita apapun tak terlalu ditanggapinya dengan antusias.

Karunya mah (kasihan) sepupu Cucu, Kang. Udah nggak ada pemasukan karena ngandelin ojol, trus disangka positif Corona. Pakaiannya semua dibakar, tersisa dua helai. Terus dikarantina. Anak-anaknya cuma minum air putih. Eh, pas di tes, ternyata negatif. Tapi sekarang akhirnya malah sakit batuk-batuk terus akibat minum air putih mentah setiap harinya.”

“Astagfirullah.” Ujang merasakan prihatin mendengarnya.

Ia hanya bisa berharap semoga Allah SWT melindungi dan menolong keluarga kakak sepupu istrinya tersebut. Ingin membantu rasanya, tapi apa daya. Keadaannya pun tak memungkinkannya untuk berbuat sesuatu. Yah, inilah potret buram satu negeri di suatu tempat. Entah sampai kapan.

(Cerita ini hanya fiksi belaka)

***

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

0 comments on “Satu Negeri di Suatu Tempat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: