Wednesday, 25 November, 2020

Daily Literacy zone

SERI WANITA SALIHAH DALAM AL QURAN (2. SITI SARAH)


(Penulis : Rhea Ilham Nurjanah)

Sejarah dunia mengenalnya sebagai istri pertama dari Nabi Ibrahim alaihissalam. Mereka pertama kali bertemu saat Nabi Ibrahim alaihissalam pergi bersama Nabi Luth alaihissalam ke wilayah Syam. Di Syam mereka bertemu dengan paman Nabi Ibrahim alaihissalam yang memiliki seorang putri yang sangat cantik. Riwayat lain mengatakan bahwa Bunda Sarah adalah putri Raja Haran di Syam.

“Belum ada wanita cantik yang memiliki kecantikan seperti Hawa hingga saat ini selain Sarah,” ucap Nabi Ibrahim alaihissalam.

Ucapan pujian dari Nabi Ibrahim alaihissalam tentu saja bukan berdasarkan hawa nafsu karena tertarik melihat fisik Bunda Sarah, melainkan karena terpesona melihat kecantikan yang paripurna meliputi lahiriah dan kesalihan. Pada masa itu Bunda Sarah adalah seorang gadis yang sangat cantik, cerdas, dan salihah. Ternyata Allah telah menakdirkan mereka untuk menikah dan menjalani kehidupan yang harmonis.

Ujian pertama datang pada rumah tangga mereka ketika suatu saat keduanya hijrah ke negeri Mesir yang dipimpin oleh seorang raja yang mata keranjang dan zalim. Siapa saja wanita yang ditemui dan dilihatnya lalu menurut raja itu cantik, pasti akan dirayu dan dinikahi. Sekalipun sang wanita incarannya sudah bersuami, maka akan direbutnya secara paksa untuk kemudian dijadikan istri atau selirnya. Tak terkecuali terhadap Bunda Sarah.

Ketika mendengar pengawalnya mengabarkan tentang kecantikan Bunda Sarah, sang raja langsung berhasrat untuk memilikinya. Raja itu penasaran ingin melihat Bunda Sarah secara langsung. Padahal ia sudah cukup banyak memiliki istri maupun selir yang cantik-cantik.

Sebelumnya Nabi Ibrahim alaihissalam mengatakan kepada istrinya untuk tidak mengatakan kalau mereka adalah sepasang suami istri demi menjaga keselamatan mereka berdua, sebab tak ada lagi muslim yang menyertai keduanya saat itu. Hal tersebut hanya sebuah taktik agar mereka selamat dari rencana tak terpuji sang raja.

Meski sudah bersiasat, nyatanya pengakuan Bunda Sarah bahwa ia adalah saudari Nabi Ibrahim alaihissalam membuat sang raja zalim semakin merasa memiliki banyak peluang untuk mendapatkannya. Bunda Sarah dijemput utusan raja tersebut dan dibawa ke istananya. Sedangkan Nabi Ibrahim alaihissalam segera melakukan salat dan berdoa kepada Allah SWT memohonkan keselamatan untuk istrinya.

Tanpa rasa malu raja Mesir yang bernama ‘Amr bin Amru’ Al Qais bin Mailun, di riwayat lain menyebutkan namanya Namrud, ada juga yang mengatakan Sinan bin Ulwan bin Uwaij bin Amalaq bin Lawadz, bin Sam bin Nuh tersebut mendekati Bunda Sarah. Melihat kecantikannya, membuat si raja semakin ingin memilikinya.

“Ya Allah, sesungguhnya aku beriman kepada-Mu dan rasul-Mu serta aku memelihara kehormatanku. Janganlah Engkau biarkan orang itu merusak kesucianku,” pinta Bunda Sarah dalam doanya kepada Allah SWT ketika raja mata keranjang tersebut ingin menyentuh tangannya.

Tiba-tiba raja tersebut merasa tercekik dan menghentak-hentakkan kakinya. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan lehernya dari sesuatu tak kasat mata yang telah mencekik lehernya. Tak seorang pun pengawalnya yang melihat hal tersebut melainkan hanya bingung tak tahu harus berbuat apa.

Bunda Sarah terkejut melihat hal tersebut dan kembali berdoa, “ Ya Allah. Andaikan orang ini mati, tentu orang-orang akan menuduh bahwa aku yang membunuhnya.”

Masya Allah, seketika si raja tersebut merasakan lehernya tak lagi tercekik. Tetapi nampaknya cekikan tadi tak membuatnya jera. Lelaki tak tahu malu itu kembali mendekati Bunda Sarah. Ia ingin menyentuh dan merayunya setelah tadi sempat gagal.

Menyaksikan hal tersebut, Bunda Sarah kembali mengulang doanya yang pertama. Ia sungguh-sungguh tak ingin tangan sang raja menodai kesuciannya sebagai seorang muslimah.

Kejadian si raja tercekik terulang lagi dan ia kembali menghentak-hentakkan kakinya. Berusaha bernapas dan melepaskan diri dari sesuatu yang tak terlihat tetapi mencekik lehernya kuat-kuat. Bunda Sarah kembali mengulangi doanya yang kedua. Si raja sembuh seperti sediakala, namun kali ini ia terlihat ketakutan dan menjauhi Bunda Sarah,

“Pasti setan yang kau kirim kepadaku. Kembalikan dia kepada Ibrahim dan beri seorang hamba sahaya!” perintahnya pada pengawalnya.

Bunda Sarah pun terbebas dari sang raja yang senang menggoda wanita tersebut. Beliau bersyukur dapat kembali kepada suami tercinta dengan selamat. Kemudian Nabi Ibrahim alaihissalam mendapatkan hadiah seorang hamba sahaya berkulit hitam yang cantik, cerdas, berakhlak mulia, dan bermental kuat.

Ujian lainnya yang harus dilewati Bunda Sarah adalah ketika memberikan budak miliknya yang bernama Siti Hajar untuk dinikahi oleh Nabi Ibrahim alaihiassalam hingga kemudian Bunda Hajar hamil. Kehamilan Bunda Hajar pada akhirnya menimbulkan kecemburuan dalam hati Bunda Sarah sebab dirinya tak jua hamil dan memberikan keturunan. Terlebih ketika lahir bayi mungil yang segera merebut banyak perhatian Nabi Ibrahim alaihissalam.

Untuk meredakan kecemburuan istrinya, Nabi Ibrahim alaihissalam diberikan petunjuk oleh Allah SWT agar membawa Bunda Hajar Bersama bayi Ismail ke sebuah tempat yang cukup jauh. Bunda Sarah menyetujuinya sebab tidak sanggup untuk melihat kehadiran Bunda Sarah dan bayinya setiap hari. Rasa cemburu membuatnya tak ingin berada di satu atap dengan madunya.

Kelak tiga tahun kemudian Allah SWT menganugerahkan seorang bayi lelaki kepadanya yang akan dinamai Ishaq. Anaknya itu akan menjadi seorang Nabi yang akan berdakwah kepada Bani Israil. Putra dari madunya yaitu Nabi Ismail alaihissalam juga merupakan penerus tugas risalah yang dibawa oleh ayah mereka. Masya Allah.

Baca juga : Kisah Nabi Yusuf as dan Nabi Ya’qub as

Terlepas dari sifat pencemburunya sebagai seorang wanita, Bunda Sarah adalah muslimah yang setia mendampingi sang suami. Beliau terus bersama Nabi Ibrahim alaihissalam hingga akhir hayatnya. Semua perjuangan dakwah sang suami selalu didukungnya dengan sepenuh hati.

Bunda Sarah wafat saat berusia 127 tahun di sebuah perkampungan bernama Hebron, yaitu kota Baitul Maqdis, di bumi Kan’an. Nabi Ibrahim alaihissalam membeli sebuah gua untuk memakamkannya. Kelak saat Nabi Ibrahim alaihissalam wafat pada usia 175 tahun atau 190 tahun atau 200 tahun, makamnya berada di dekat makam Bunda Sarah yaitu di gua Hebron Al Haitsi, di kawasan perkebunan milik Afrun Al Haitsi.

Baca juga : SERI WANITA SALIHAH DALAM AL QURAN (1. SITI HAWA)

Wallahu alam bishowab.

***

Referensi :

Katsir, Ibnu. Kisah Para Nabi (Kisah 31 Nabi dari Adam Hingga Isa, Jakarta Timur: Ummul Quro, Rabiul Akhir 1439 H /Januari 2018.

Awaludin, Latief, M.A. Ummul Mukminim (Al Quran dan Terjemahan untuk Wanita), Jakarta: Penerbit Wali, 2014)

Editor : DLZ’s crew

Sumber gambar : Canva

dailyliteracyzone/rheailhamnurjanah

One comment on “SERI WANITA SALIHAH DALAM AL QURAN (2. SITI SARAH)

[…] Baca juga : SERI WANITA SALIHAH DALAM AL QURAN (2. SITI SARAH) […]

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: