Thursday, 16 September, 2021

Daily Literacy Zone

SIAPA ELU?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers. Pernah nggak kita menampilkan karya di sebuah forum, grup, komunitas, atau bahkan di akun medsos sendiri lantas orang bereaksi seolah mengatakan, “Siapa elu? Posting-posting di sini? Emangnya udah punya kedudukan apa? Udah jadi mentor di mana? Namamu aja kita nggak kenal!”

Atau, ketika kita memosting sesuatu, tidak ada yang merespon. Tiba-tiba, tak lama dari postingan karya kita, muncullah postingan orang lain yang datang dan langsung direspon banyak orang. Beberapa orang yang semula silent tiba-tiba seolah berlomba memberikan komentar terbaiknya kepada postingan baru tersebut yang sekiranya penulisnya dianggap “lebih” senior dan berpengalaman dari kita yang cuma dianggap remehan ayam goreng tepung. Kriuk!

Pernah juga penulis beberapa kali membagikan postingan di suatu grup, tetapi salah seorang adminnya berkomentar ingin membubarkan grup tersebut. Seolah-olah grup itu selalu sepi tanpa ada aktivitas. Lha, postingan kita yang biasa dibagikan di situ dianggap apa, dong? Spam? Hahaha. Disenyumin ajalah.

Well. Kalau kita menjadi mereka, apakah akan bereaksi sama? Menganggap lalu postingan atau tulisan sesama penulis yang dianggap lebih “junior” dari admin, mentor, atau kita. Kita sibuk memberi applaus, sementara kita sendiri sedikit berkarya, lebih seringnya jadi silent reader, atau sibuk menimpali saat ada momen “ghibah”, dan hanya menjadi penikmat saja.

Kalau kita berpikir negatif, tidak adanya “pengakuan” dari mereka, “para mastah” nulis atau para pendukung mastah tersebut, bisa membuat mental kita down, lho. Kita jadi baper, lalu buru-buru menghapus postingan kita sendiri karena merasa “tak layak” berbagi sekalipun isi tulisan yang dibuat sebenarnya bermanfaat.

Lalu kita jadi tidak mau lagi berkarya apalagi sampai membagikan postingan terbaru di publik. Wah, setan pada sorak, lho! Sukses memukul mental kita supaya “udahlah, jadi penikmat lagi aja. Tokh nggak pernah ada yang mengapresiasi ini.” Berkuranglah satu orang yang ingin beramal saleh. Itu setan senang banget!

Tetapi sebaliknya. Jika kita berpikir positif, reaksi-reaksi tak menyenangkan tersebut, takkan dianggap terlalu serius. Bukankah tak memberi respon bukan berarti tak membaca karya kita? Bisa saja mereka nanti akan membacanya.

Silakan cek di platform atau aplikasi yang memiliki data statistik. Tak adanya komen atau like, tak menjamin bahwa tak ada yang membaca tulisan kita, lho. InsyaAllah, selalu ada yang akan membaca meski tanpa meninggalkan “jejak”. Yang penting buat kita, nulis terus, nulis lagi, nulis selamanya.

Pun, pada postingan-postingan para mastah yang riuh dikomentari, bukan lantas berarti postingan tersebut benar-benar dibaca oleh para komentator. Bisa saja mereka hanya ingin “terlihat” dengan memberikan pujian. Sudah nggak aneh kalau di dunia ini banyak penjilat-penjilat yang senang mencari muka dengan memberikan pujian yang sebenarnya nggak tulus sama sekali. Ada pamrih biasanya. Wallahu alam. Semoga persangkaan ini keliru, ya?

Ucapan atau komentar yang tulus itu adalah, ketika orang tak mengenali kita siapa lalu membaca tulisan kita dan memberikan komentar yang tulus namun tetap santun. Pernah berlaku begitu atau menerima perlakuan begitu? Pernah tetapi sangat jarang sekali?

Intinya, ketika kita berkarya dan menerbitkannya kepada masyarakat tetapi reaksi yang didapat “sepi” dan “dingin”, maka jangan langsung putus semangat, Sobat. Teruslah berkarya sekalipun orang tak jua mengenal kita. Sebab tujuan kita berkarya bukan untuk dikenal orang, kan? Bukan untuk dipuja dan dipuji, kan? Tetapi untuk berbagi ilmu dan manfaat dari secuil yang kita tahu.

Jangan khawatir “dikecilkan” manusia. Yang perlu kita takutkan adalah ketika “dikecilkan” penghuni langit. Sebab yang menguasai dunia beserta isinya itu kan Allah SWT. Allah dan Rasul-Nya saja tak pernah mengisyaratkan bahwa yang boleh berkarya hanya orang-orang tertentu, dari golongan atau kasta tertentu. Tetapi semua manusia.

Terlepas dari semua reaksi tidak menyenangkan tersebut, ingatlah satu hal bahwa berkarya itu harus terus dilakukan. Jangan pernah berhenti meski banyak perlakuan tak menyenangkan yang kita dapat. Selama kita masih berpegang teguh pada prinsip kebaikan, bukan menebar sensasi tak jelas, maka teruslah bergerak maju!

Biarkan Allah SWT, Rasul, dan orang-orang beriman yang menilainya. Takkan ada hal yang sia-sia selama kita terus berusaha dan berjuang.

So, saat ada yang bertanya, “Siapa Elu?”

Jawab saja dengan ringan. “Saya hamba Allah, yang ingin beribadah lewat karya yang saya buat.”

Salam literasi

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

2 comments on “SIAPA ELU?

Suratmi Supriyadi

Ih mbak mah, suka bener ya.🤭
Kadang sedih ya diperlakukan seperti itu, enggak sedikit juga koment hanya sesama temannya saja. Hiks hiks

Reply
DLZ Admin

Iya, kita dianggap angin lalu. It’s oke. Kita maju terus aja dengan karya. Kadang karya “bersuara lebih keras”. 😀
Semangat! Semangat! 💪💪

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: