Thursday, 24 September, 2020

Daily Literacy zone

Simalakama Cuci Tangan 20 Detik


Simalakama Cuci Tangan 20 Detik

Pilih mana, sekarang sehat tapi nanti meninggal karena kehausan, atau sekarang sakit tapi nanti mempunyai air yang berlimpah? Bagai buah simalakama. Namun itulah yang kini terjadi.

Sebuah badan kerjasama lintas negara di Asia yang menangani masalah air, Water Environment Partnership in Asia (WEPA) mengungkapkan bila Indonesia menyimpan enam persen potensi air dunia. Namun jumlah tersebut masih sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia.

Jangankan untuk ratusan tahun mendatang, saat ini saja, setiap kemarau selalu ada kasus kekurangan air. Kekurangan tersebut pasti kian bertambah dengan merebaknya wabah virus Corona (COVID 19). Sebab selain anjuran tinggal di rumah dan jaga jarak, setiap hari kita diingatkan untuk sering cuci tangan.

Bukan sembarang cuci tangan. Namun yang sesuai dengan aturan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization – WHO), yaitu menggunakan sabun dan air mengalir selama 20-30 detik per cuci tangan. Menurut hasil penelitian Michigan State University, 95% orang enggan mencuci tangan selama waktu tersebut.

Ironinya mencuci tangan dengan air mengalir selama durasi tersebut ditengarai boros air. Karena menyebabkan terbuangnya 1,5 hingga 2 liter air untuk satu orang per sekali cuci tangan. Bila dalam sehari, setiap orang mencuci tangan sebanyak 10 kali, setidaknya 15 hingga 20 liter air terbuang. Bila dikalikan dengan jumlah penduduk Indonesia?

Proyeksi dari Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia di tahun 2020 mencapai 271.066.000 jiwa. Anggap saja yang wajib cuci tangan hanya yang usia lima tahun ke atas, karena sudah banyak aktifitas, termasuk keluar rumah. Sementara jumlah penduduk di bawah 5 tahun sekitar 22 juta jiwa.

Jadi potensi air yang terbuang adalah 15-20 liter dikalikan 249.066.000 jiwa. Maka potensi kehilangan air adalah 3.735.990.000 – 4.981.320.000 liter air per hari. Atau, setiap hari sekitar 3,7 milyar – 5 milyar liter air terbuang.

Bila akan dihitung perkeluarga, data BPS memperlihatkan jika rata rata jumlah anggota keluarga di Indonesia sebanyak lima orang. Artinya hanya untuk urusan cuci tangan, setiap keluarga paling sedikit membuang air 75 – 100 liter per hari.

Dengan data di atas, tampak jelas bila kita bisa terhindar dari COVID 19 tapi kelak kita bisa meninggal karena kehausan.

Lalu, apakah kita tidak usah cuci tangan?

Tentu saja bukan itu solusinya. Kita wajib cuci tangan, tapi harus dengan cara yang cerdas. Bagaimanakah itu?

  1. Cuci tangan di saat yang tetap. Kapankah itu?
  • Setelah bepergian dan berkegiatan di luar rumah
  • Setelah bersentuhan dengan orang lain atau binatang
  • Sebelum dan setelah menyiapkan atau memasak makanan.
  • Sebelum makan atau minum
  • Setelah menggunakan toilet
  • Setelah bersentuhan atau membersihkan aneka kotoran.
  1. Alirkan air di saat yang tepat, caranya:
  • Buka keran kemudian basahi tangan
  • Tutup keran
  • Sabun dan gosok seluruh tangan, mulai dari telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, bagian dalam jari, ibu jari hingga ujung jari atau kuku. Minimal 20 detik.
  • Buka keran. Bilas kepala keran.
  • Bilas tangan hingga bersih.
  • Tutup keran.
  1. Atur aliran keran dengan tepat, yaitu di aliran sedang saja.
  2. Usahakan tidak cuci tangan di wastafel, agar di bawah tempat cuci tangan dapat diletakkan ember. Sehingga air bekas cuci tangan masuk ke ember. Air tersebut digunakan untuk mencuci teras, sepeda motor dan sebagainya.
  3. Tanam banyak pohon untuk membantu penyerapan air. Guna mengganti air tanah yang sudah digunakan. Air yang diserap hari ini, baru bisa digunakan puluhan bahkan ratusan tahun mendatang.

Mari tetap mencuci tangan tanpa abai akan lingkungan.

Salam literasi lingkungan (eco literacy)

***

*Cileunyi Bandung, 27 April 2020

dailyliteracyzone/neniutamiadiningsih

5 comments on “Simalakama Cuci Tangan 20 Detik

Keren iniπŸ‘πŸ‘πŸ‘

Di saat banyak orang jadi parno dan merasa haris seringΒ² cuci tangan.. postingan ini bagaikan oase di tengah kebingungan krn banyaknya informasi yg bertebaran. Terima kasih.. πŸ˜πŸ‘

Reply
DLZ Admin

Alhamdulillah. Terima kasih kunjungannya, Mbak. Feel free to shareπŸ™πŸ˜Š

Reply

πŸ˜‰πŸ‘

Reply
Darmanelly

Kalau ada keran yang ada sensor, lebih baik. Basahkan tangan, begitu tangan menjauh, sensor mematikan keran. Saat bilas keran dihidupkan kembali, setelah selesai, sensor mematikan air kembali.

Reply

Mantap, Bro ! Dilema tangan dan air, hehehe

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: