Sunday, 19 September, 2021

Daily Literacy Zone

STOP JADI PENULIS YANG MENGEMIS!


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers! Sudah memosting tulisan apa hari ini?

“Saya sudah berteman dan tag si Mbak A, tetapi dia cuma like aja. Nggak pernah sekalipun komen. Padahal saya sering lho komen dan like di postingannya.”

“Saya mau menghapus pertemanan dengan teman yang tidak pernah memberi like atau komen di setiap postingan saya. Lebih baik mempertahankan mutual friends (baca: yang rajin like dan komen di setiap postingan kita). Jadi yang masih mau berteman dengan saya, komen ya di kolom komentar. Biar saya pertimbangkan untuk tidak men-delete dari list pertemanan.”

Pernah menemukan hal ini atau bahkan kita yang begini, Sobat? Kenapa begitu naif memandang soalan like me-like dan komen-komenan? Membuat pernyataan-pernyataan penuh drama dan kejam seperti itu? Sepicik itukah menilai arti sebuah pertemanan sekalipun “hanya” di dunia maya?

Bukankah dulu ketika kita membuat akun di medsos itu adalah kemauan sendiri tanpa ada paksaan? Bukankah ketika memosting foto selfie itu tidak ada yang meminta tetapi kitanya yang rajin update memajang foto diri sendiri, foto jalan-jalan, makan-makan, dan sebagainya? Lalu ketika teman-teman di dumay tak ada yang merespon, kita marah, men-delete pertemanan hingga memblokir mereka. Kekanak-kanakan sekali itu, Sobat.

Kita sendiri ketika melihat postingan yang tak ingin di-like atau dikomentari, pasti kesel kan kalau si empunya postingan menuntut semua yang melihat postingannya untuk memberi respon meski sekadar like? Kita pasti bergumam dalam hati, eh siapa kamu? Ngatur-ngatur aku untuk urusan like me-like? Terserah gue, dong. Jari-jari gue. Emangnya situ suka nge-like postinganku? Walah ….

Fix. Kalau semua orang bersikap begitu, bisa ambyar dunia per-medsosan. Setiap orang sibuk menuntut dan meminta orang lain untuk sekadar merespon semua postingannya. Terlepas dari penting atau tidak pentingnya isi postingan yang harus diapresiasi.

Sadar nggak sih kalau urusan minta meminta like, comment, atau respon dari orang lain itu seperti “mengemis” perhatian? Apalagi kalau sekadar me-like foto selfie kita. Kalau meminta like sebagai bentuk dukungan terhadap karya kita, tanpa memaksa, dengan tujuan agar makin tersebar dan tersiar ke masyarakat manfaatnya, rasanya masih bisa dimaklumi, ya?

Kalau pun tidak diberi like, ya sudah jangan jadi mendendam. Bikin karya lagi aja. Anggap saja orang-orang yang memberi apresiasi adalah rezeki, bonus. Alhamdulillah postingan yang kita buat bermanfaat untuk mereka. Think positive! Sudah, cukup begitu saja. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Capek lah. Iya, nggak?

Sobat DLZers, sesekali bolehlah kita mengapresiasi karya orang lain. Apalagi jika diniatkan untuk membalas kebaikan orang lain yang sudah rajin mengapresiasi karya kita. Bersimbiosis mutualisma. Saling mendukung, saling menghargai. Hidup akan terasa indah dan damai kalau begitu.

“Membuang” teman-teman lama dari list pertemanan sah-sah saja dilakukan. Itu hak asasi setiap orang, apalagi jika pertemanan yang terjalin tiada memberi manfaat dan lebih banyak berdampak negatif, tetapi sebaiknya lakukan tanpa perlu membuat postingan yang bernada negatif. Delete ya delete aja. Nggak perlu sok-sokan punya teman banyak tanpa perlu mencari. Hilangkanlah berkoar-koar mengatakan bahwa mutual friends yang bakalan rajin mengapresiasi sudah menanti, antre untuk bisa masuk list pertemanan kita. Belum jadi selebritis saja sudah pongah, apalagi kalau benar jadi selebritis? Kebayang bagaimana arogan sikap yang nantinya ditampilkan di muka publik.

Pernah berpikir nggak sih kalau pada akhirnya orang-orang malah jadi malas berteman dengan kita setelah melihat betapa murahnya kita menilai sebuah pertemanan? Jangan geer dengan menganggap orang lain akan rugi bila diputuskan pertemanannya oleh kita. Bisa jadi justru orang lain akan melihatnya sebagai sebuah keuntungan. Nah, lho!

Yuk, ah. Stop jadi penulis yang mengemis. Di-like atau tidak, nulis ya nulis saja. Jalan terus. Semoga dengan melihat banyaknya manfaat yang bisa didapatkan dari kita maka orang-orang akan dengan sukarela mengapresiasi karya kita. Tanpa perlu dipaksa atau diancam terlebih dahulu bahwa akan diputuskan pertemanannya dari friend list kita.

Selamat berburu like dengan karya yang elegan dan bermutu. Semangat!

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “STOP JADI PENULIS YANG MENGEMIS!

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: