Tuesday, 24 November, 2020

Daily Literacy zone

STOP NGERUMPI DAN NULIS AJA, YUK?


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Perempuan itu setiap harinya, dari mulai bangun sampai tidur lagi itu sanggup mengeluarkan 20.000 kata. Jadi memang sangat wajar jika perempuan dikenal sebagai makhluk paling ceriwis dan cerewet di muka bumi ini. Tak ada yang menyangsikan kemampuan super ini. Sementara itu kaum lelaki konon hanya mengeluarkan 2.000 kata saja per harinya. Seper sepuluh dari kemampuan perempuan. Jika ada lelaki yang memiliki kecerewetan dan keceriwisan mendekati perempuan, biasanya “sedikit” diragukan keasliannya sebagai lelaki. Berbanding terbalik jika ada perempuan yang cerewet, akan dianggap normal.

Tak heran jika perempuan punya hobi ngerumpi berjam-jam tanpa merasa bosan. Di warung-warung sayuran, di pasar, di gerobak mamang sayuran, di arisan, saat nunggu dan jemput anak disekolah, bahkan di kantor-kantor pun, urusan rumpi merumpi, perempuan selalu terunggul dan terdepan.

Perempuan, menurut ahli psikologi, sebenarnya hanya butuh didengarkan dan tidak selalu butuh untuk dikomentari. Didengarkan hingga capek bicara dengan sikap sepenuh perhatian pada mereka, terkadang cukup membantu melepaskan beban hidup yang menggelayut di pundaknya. Tak seperti lelaki yang kebanyakan lebih suka memendam sendiri permasalahannya, selektif memilih orang yang akan diajak curhat, atau mencari pelampiasan distraksi. Bisa berupa olahraga, melakukan hobinya, dan sebagainya.

Potensi yang baik sebetulnya. Sebab perempuan itu punya tanggung jawab mendidik anaknya. Dari mulai ada janin di rahimnya hingga lahir dan bertumbuh, ibu yang harus menstimulasi dengan mengajak bicara agar tidak terjadi deelay speech. Sedangkan para bapak cenderung lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah untuk bekerja sehingga sedikit saja waktu untuk bisa membantu ibu menstimulasi bayinya.

Baca ini juga, ya : Jenis Tulisan

Para ibu memang terkenal dengan kecerewetannya saat mengurus anak dan suami. Untuk memastikan semua beres. Wajar. Artinya mereka masih peduli dan masih bersama keluarganya. Yang disayangkan adalah jika kemampuan bicara ini digunakan untuk hal-hal tidak bermanfaat seperti bergosip atau bergibah. Sambil mengasuh anak, ada beberapa emak santai ngerumpi dengan sesamanya. Tak apa jika yang dibicarakan adalah seputar saling sharing soal pendidikan anak. Yang tidak boleh itu ketika sudah memasuki ranah membeberkan rahasia dapur dan ranjang, apalagi sampai membicarakan keburukan orang lain serta berpotensi mengadu domba.

Jadi, daripada banyak ngerumpi, bergibah, dan bergosip serupa pepesan kosong, lebih baik potensi 20. 000 kata ini disalurkan lewat hal positif yaitu menulis. Mau menulis di diari, medsos, menjadi sebuah buku, atau di platform menulis lainnya.

Hal ini akan lebih baik daripada para emak membuang-buang waktu berjam-jam hanya untuk ngerumpi dan bergibah tanpa menghasilkan apapun. Menulis akan menjadi rekam jejak keberadaan kita di dunia ini. Bisa menghasilkan income baik berupa pahala dan bonus fee jika ditekuni dengan serius dan profesional. Pada akhirnya, trust me, insya Allah. Kita akan menjadi lebih sehat dan sibuk berkarya.

Salam literasi.

***

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “STOP NGERUMPI DAN NULIS AJA, YUK?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: