Tuesday, 22 June, 2021

Daily Literacy Zone

TIPS MENJADI PENULIS PRODUKTIF


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers, sudahkah menulis hari ini?

Pernah sibuk bertanya-tanya seperti ini, “Kenapa sih teman-teman penulisku pada rajin bikin karya? Ada yang punya target tertentu. Ada yang selalu bisa nulis setiap hari. Sementara aku? Rasanya sibuk banget sampai nggak sempat nulis atau posting sesuatu.”

Sobat DLZers, orang lain bisa menjadi penulis produktif itu apa ya tips-tipsnya?

1. Sarana latihan. Menulis, memasak, memainkan alat musik, dan sebagainya jika dilatih setiap hari akan membuat kita jadi mahir dan lancar melakukannya. Betul, tidak? Kita ingin bisa menulis dengan bahasa yang mengalir, mudah dipahami dan enak saat dibaca, tetapi semua itu tidak mungkin terjadi secara tiba-tiba. Harus melalui banyak latihan, banyak membaca, dan tak pernah berhenti untuk berproses. Yang semula tak pernah nulis, lantas berharap langsung bisa menulis tulisan yang oke? Itu mustahil. Semua penulis bahkan yang sudah senior sekalipun, nyatanya terus menulis dan menulis sepanjang hayatnya tanpa mengenal kata “berhenti”.

2. Merangsang otak terus berpikir. Berdasarkan penelitian para ahli, latihan atau aktivitas seperti menulis, membaca, mengisi TTS, dan sebagainya, ternyata berguna untuk merangsang kerja otak agar tidak lekas mengalami kepikunan, yang dikenal dengan Alzheimer dan Dementia. Apalagi jika kita menulis langsung dengan mempergunakan pena. Efeknya lebih kuat lagi terhadap kinerja otak. Sel-sel otak itu tidak mengalami regenerasi, tidak seperti sel-sel kulit. Jika tidak digunakan maka akan mengalami degradasi atau penurunan kemampuan. Oleh karena itu menjadi seorang yang produktif menulis, dengan sendirinya akan memperlambat proses kepikunan atau penurunan kemampuan otak.

3. Bagian dari personal branding. Ingin disebut dan dikenal sebagai penulis? Menyebut diri seorang penulis? Tetapi saat ditanya, mana hasil tulisan kita, tak ada satupun bukti yang bisa ditampilkan. Akun-akun medsos dan update-an status yang kita miliki tidak sedikit pun menceritakan aktivitas atau karya menulis. Mana mungkin orang bisa percaya dan menyebut kita sebagai seorang penulis? Maka dengan banyak dan rutin memosting hal-hal terkait literasi maka publik bisa melihat bahwa iya, benar, kita adalah penulis.

4. Ada waktu khusus. Banyak sekali penulis yang mengatakan bahwa mereka mencintai aktivitas menulis, tetapi dilakukan hanya sebatas hobi atau pekerjaan sampingan. Sehingga tidak menyediakan waktu khusus untuk menulis. Yang ada adalah menulis ketika ada sisa waktu luang setelah melakukan aktivitas wajib ataupun aktivitas rutin harian. Menulis tidak dijadikan bagian dari aktivitas wajib yang harus dilakukan setiap hari. Hal ini yang menyebabkan banyak penulis menjadi kaum deadliners. Alias pejuang mepet deadline. Jika ingin produktif berkarya maka sebaiknya milikilah waktu khusus untuk menulis.

5. Nulis jadi profesi utama. Di negeri kita ini, masih sedikit sekali orang yang menjadikan menulis sebagai profesi utama. Sebagian ada yang melakukannya sebagai hobi, pekerjaan sampingan, ataupun alternatif kegiatan dalam rangka mempersiapkan masa pensiun. Karena menulis belum banyak memberikan hasil secara materi yang menjanjikan maka seringkali penulis-penulis merasa cukup dengan satu keahlian saja. Pintar nulis artikel, ya artikel saja. Suka posting di medsos, ya di medsos saja. Sudah. Padahal banyak sekali keahlian yang bisa dimiliki oleh seorang penulis sekaligus. Pun ketika profesi menulis dijadikan pekerjaan utama maka akan muncul satu kesadaran diri bahwa “saya harus terus menulis!” apapun yang terjadi.

6. Senang berbagi. Penulis yang enggan menulis secara rutin biasanya adalah mereka yang tak merasa perlu membagikan apapun kepada masyarakat. Sebaliknya, penulis yang produktif biasanya adalah orang yang senang berbagi. Entah berupa informasi kekinian, tips ringan, resep masalan terbaru, dan sebagainya. Mereka adalah tipikal orang yang tak bisa menyimpan sesuatu yang betmanfaat hanya untuk dirinya sendiri. Mereka beranggapan, sekalipun sedikit, harus dibagikan, agar manfaatnya diketahui luas oleh masyarakat.

7. Memaksakan diri. Tidak semua penulis memiliki kondisi yang sama, terutama bagi penulis perempuan. Biasanya perempuan itu banyak disibukkan dengan kewajiban mengurus anak dan rumah tangga. Hingga sering merasa tak sempat memiliki sekadar “me time” untuk melakukan apa yang disukainya. Salah satunya adalah kegiatan menulis. Padahal menulis itu tak harus berjam-jam. Jika kita sering berlatih, kecepatan menulis pun bisa diperkirakan. Jika kita sedang memiliki bayi, bisa menulis curi-curi waktu saat bayi tertidur. Sekadar memosting tulisan atau quote singkat juga sudah cukup. Sekalipun sekadar tulisan ringan, hal ini perlu dilakukan agar otak kita terus dirangsang untuk bisa selalu berpikir dan mencari ide-ide baru.

8. Bersedia berkorban. Pengorbanan apa yang biasanya dilakukan penulis yang produktif? Salah satunya berkorban mengurangi jatah tidurnya sehari-hari. Terutama sekali bagi mereka yang memiliki profesi lain selain sebagai penulis. Rasulullah SAW saja, sehari tidur hanya 3 hingga 4 jam karena banyak menghabiskan waktu untuk melakukan kebaikan. Kita? Tidur lebih dari 6 jam per hari. Nah, jatah tidur, waktu santai berkurang karena aktivitas menulis takkan dianggap sebagai hal yang memberatkan. Justru seringnya mereka tak bisa tidur dengan tenang sebelum selesai menulis. Jadi akan memilih menghabiskan waktu dengan menulis. Nah, mulai sedari sekarang, maukah mengurangi satu jam saja waktu luang untuk dijadikan jadwal wajib untuk menulis?

9. Sudah menjadi kebutuhan. Jika seseorang beranggapan bahwa menulis sudah menjadi kebutuhannya sehari-hari maka takkan ada hari tanpa menulis. Altivitas menulis sudah dirasakan penting sebagaimana aktivitas seperti makan. Jika tak menulis sehari saja maka rasanya ada yang kurang. Jatah tidur, waktu santai pun berkurang karena aktivitas menulis takkan dianggap sebagai hal yang memberatkan. Bagi mereka yang sudah merasakan manfaat menulis, misalnya sebagai self healing, maka akan selalu menulis dan menulis demi menjaga kesehatan kewarasan sendiri. Pernah ada penulis yang berjuang melawan penyakit kankernya yang terus menulis pengalamannya sebagai survivor kanker agar sesama penderita kanker tetap terus bersemangat melawan penyakitnya dan menjalani hidup. Pun, penulis yang memiliki masalah mental atau gangguan psikologi di masa lalu, yang menuliskan pengalaman hidupnya untuk menginspirasi orang lain. Dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.

10. Ibadah. Menulis jika tanpa visi dan misi yang jelas maka akan menjadi suatu aktivitas yang bisa menimbulkan kejenuhan atau rasa malas. Namun, jika kita memiliki visi dan misi kuat untuk selalu menulis, maka semangat itu akan terus menyala setiap saat. Kita akan selalu menulis dan menulis, tanpa perlu digedor-gedor orang lain untuk melakukannya. Penulis produktif akan memandang bahwa aktivitas menulis merupakan bagian tak terpisahkan dan dalam rangka beribadah kepada-Nya.

Ada ungkapan menarik dari seorang penulis legendaris dari Mesir yaitu Sayyid Qutb. “Satu peluru hanya sanggup menembusi satu kepala, namun satu tulisan bisa menembus beribu hingga jutaan kepala.”

11. Tujuan komersil, profit, atau fee. Ada penulis yang memang berniat menulis karena ingin mendapatkan pendapatan. Tidak salah karena mungkin memang sudah menjadi mata pencaharian utama atau untuk menafkahi keluarganya.

Betapa dahsyatnya pengaruh tulisan, bukan? Apalagi jika diniatkan dalam rangka beribadah kepada-Nya dan berbagi manfaat. untuk orang banyak. InsyaAllah yang namanya ide tulisan akan muncul selalu dan mempengaruhi produktivitas menulis seseorang.

Siap memulai untuk menjadi seorang penulis produktif, Sobat DLZers?

Salam literasi.

Referensi: www.goodreads.com.

Editor: DLZ’s crew.

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

2 comments on “TIPS MENJADI PENULIS PRODUKTIF

Muliana Buulolo

Setelah saya membaca ” TIPS MENJADI PENULIS PRODUKTIF” saya tertari dan ingin mencobanya saya harus memulai dari mana?

Reply

Bisa dicoba bikin semacam diari atau jurnal sederhana. Berusaha konsisten menulis, sekalipun cuma sekalimat. Lebih banyak mengamati kondisi sekitar lalu tuangkan kesan kita dalam bentuk tulisan. 😊

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: