Sunday, 11 April, 2021

Daily Literacy Zone

TULISAN “AUTIS” PENULIS


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

Assalamualaikum wr wb. Hai, Sobat DLZers! Masihkah sibuk menulis, posting sana sini dan ikut proyek nulis? Jika demikian, semangat terus, ya? Semoga diberikan kemudahan. Aamiin.

Sobat DLZers, pernahkah menemukan tulisan yang isinya tidak kita mengerti? Saat membacanya, kening kita sering berkerut karena tidak paham isinya atau tidak bisa mengikuti alur ceritanya. Jangankan mengikuti alur ceritanya, membayangkan bagaimana isi ceritanya saja kita tidak menemukan gambaran sama sekali.

Mungkin menurut penulisnya, cerita yang ditulisnya seru, menarik, dan asyik. Tetapi apa artinya jika pembaca tidak seasyik sang penulis saat membaca karya tersebut? Pesan-pesan yang ingin disampaikan bisa jadi takkan sampai apalagi mengena pada pembaca. Bisa saja malah menjadi bacaan yang membosankan.

Contoh kecilnya yang beberapa kali saya temui adalah pergantian sudut pandang atau POV yang tidak jelas kapan pergantiannya. Paragraf pertama memakai POV pertama, tetapi tiba-tiba di paragraf selanjutnya menjadi POV 2 atau bahkan 3. Sering juga pemakaian antara kata “kami” dan “kita” yang seringkali rancu dan tertukar. Bikin makin bingung.

Ada penulis yang entah karena sehari-harinya berkomunikasi dengan bahasa asing atau memang terbiasa dengan membaca buku impor, saat merangkai kata dalam kalimat saat menulis, tidak mengikuti aturan atau kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Terbolak-balik antara kata “menerangkan” dengan “diterangkan”. Alias ejaan yang dipakai adalah ejaan bahasa asing atau bahasa daerah. Memang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia tetapi tanpa diperbaiki susunan kata-katanya.

Lalu penulis yang menulis satu buku tetapi antar bab tidak ada sedikitpun korelasinya. Satu pemaparan isu, belum juga diselesaikan atau dicarikan alternatif penyelesaiannya, tetapi sudah muncul masalah atau isu baru. Hingga akhir tulisan di buku tersebut, tidak semua permasalahan dituntaskan. Tidak dibuat akhir yang menggantung biar lebih seru misalnya, tetapi menguap begitu saja. Seperti konflik yang dipaksakan guna meramaikan isi bukukah? Wallahu alam.

Ada yang menyajikan percakapan atau narasi dalam bahasa daerah atau bahasa asing yang bukan menjadi bahasa pengantar di kancah internasional tetapi tanpa menyertakan terjemahannya. Ya, kita mungkin akan terlihat keren karena menguasai bahasa asing yang mungkin tak seakrab ketika mengucapkan bahasa Inggris. Tetapi apa gunanya jika hanya kita dan penduduk asli bahasa tersebut yang paham? Sementara penjualan atau peminjaman buku banyak dilakukan di Indonesia? Kamus atau mesin penerjemah di gadget memang ada dan siap diakses setiap saat, tetapi pembaca yang tak menemukan rasa kenyamanan dan kemudahan dalam memahami karya kita, bisa menjadi poin minus terhadap karya kita. Sekarang dan untuk selanjutnya.

FIRST READER, PENTING ATAU TIDAK?

Ada juga penulis yang menyajikan banyak tokoh dalam ceritanya. Jika dalam bentuk novel mungkin bukan masalah. Hanya saja untuk ukuran antologi dengan maksimal halaman penulisan hanya 4 lembar ukuran A4, tokoh yang ditampilkan lebih dari 5 orang. Ditambah dengan kondisi tanda baca yang tak beraturan. Penuh tanda elipsis yang salah penggunaannya. Banyak kata “hahaha, hihihi, hehehe” tetapi isi cerita bukan tentang cerita bergenre humor. Penulis seolah sibuk menceritakan sesuatu tanpa mau tahu apakah pembaca paham dan ikut asyik menyimak tulisannya.

Dialog yang bertumpuk di satu paragraf padahal berisi percakapan antara dua orang atau lebih. Satu paragraf penuh berisi dialog, bisa menjadi hampir setengah halaman jika satu persatu dialog diuraikan. Editor akan butuh waktu cukup lama untuk berulang kali membaca dan menebak dialog pertama punya tokoh si A, dialog kedua punya tokoh si B. Lalu dialog ketiga punya si C … atau punya si A lagi? Atau si B? Atau …?

Kemudian yang paling sering diketemukan adalah satu paragraf yang panjang, terdiri lebih dari 5 baris yang nyaris tidak ada tanda bacanya. Ketika dipisah-pisah, ternyata bisa menjadi beberapa kalimat. Bayangkan jika Sobat mencoba read aloud. Apa tidak kehabisan napas saat membaca satu paragraf penuh tanpa ada tanda titik ataupun tanda koma? Takkan cukup satu tarikan napas membaca tulisan beberapa baris sekalipun. Tidak percaya? Silakan dicoba. Pemenggalan kata pun jika dilakukan pada kata yang berbeda akan menimbulkan arti yang berbeda pula, lho.

Contoh: Ibu pergi ke pasar.

atau: Ibu, pergi ke pasar.

Yang pertama merupakan kalimat berita, yang kedua lebih ke kalimat perintah.

Meraih pembaca setia itu nyatanya bukan hal yang mudah, apalagi mempertahankannya. Meraihnya sulit, sementara mereka akan dengan sangat mudah lepas dari kita dengan sedikit saja kealpaan yang tanpa sengaja diperbuat. Tidak menghadirkan kenyamanan sama sekali. Pembaca pasti akan lebih memilih tulisan lain yang lebih asyik, mudah dipahami, asyik untuk diimajinasikan, dan seolah turut menjadi bagian dari isi tulisan. Seperti ikut hadir dalam cerita.

Menulis itu pada dasarnya merupakan cara manusia berkomunikasi selain lewat berbicara langsung. Syarat komunikasi itu harus ada penerima, media, dan feed back. Sebuah penyampaian informasi takkan berlangsung jika salah satu komponennya hilang.

So, mari kita menulis bukan hanya sekadar menulis sesuai kemauan sendiri tetapi juga harus bisa dipahami oleh orang lain. Agar tujuan dari penulisan yang dibuat sampai kepada pembaca. Minimal mereka menikmatinya dan menjadi penggemar setia tulisan-tulisan kita. Berhentilah jadi penulis yang autis, yang sibuk dengan “dunianya sendiri”, tulisannya hanya bisa dipahami sendiri, dan tidak pernah nyambung dengan dunianya pembaca.

Bagaimana caranya? Mudah saja. Pergunakanlah bahasa yang mudah dimengerti, banyak membaca agar kemampuan berbahasa kita juga menjadi lentur dan tidak gagap. Jangan lupakan peran first reader sebagai tes pasar pertama dari tulisan kita sebelum dipublikasikan. Selamat berkarya. Tetap semangat!

Salam literasi.

Editor: DLZ’s crew

Gambar:

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

0 comments on “TULISAN “AUTIS” PENULIS

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: