Saturday, 19 September, 2020

Daily Literacy zone

TULISAN RAMAH EDITOR


(Penulis: Rhea Ilham Nurjanah)

“Naskah ini harus direvisi. Waktu yang diberikan maksimal 2 pekan. Jika lewat dari waktu yang sudah ditentukan belum beres, maka kontrak yang sudah disepakati menjadi batal!”

“Naskah diperbaiki lalu kirim ulang. Bila tidak sesuai instruksi, bisa jatuh penalti dan ada sanksi berupa denda berbentuk uang. Semua sesuai seperti yang tercantum di surat kontrak.”

Aku punya pengalaman “horor” saat menyelesaikan 2 buku solo dulu. Editor memintaku untuk memperbaiki beberapa bagian naskah, kebanyakan soal kata yang tidak baku atau istilah-istilah yang harus diubah agar yang membacanya paham. Berhubung aku menulis buku untuk anak-anak kategori usia 8-13 tahun.

Tidak banyak yang harus diperbaiki. Hanya saja sempat membuatku mual saat melihat di beberapa bagian naskahku ada beberapa warna kuning pada kata yang ditandai oleh editor untuk diperbaiki. Saat itu aku tidak terlalu bisa mempergunakan aplikasi untuk mengedit naskah meski itu ada di word laptop. Jumlahnya memang tidak banyak, tetapi cukup membuat deg-degan juga. Kata yang ditandai berwarna kuning itu akan hilang warnanya jika huruf, tanda, atau kata yang kita perbaiki benar.

Alhasil, kuhabiskan waktu hampir sepekan lamanya untuk mengotak-atik aplikasi tersebut. Berusaha mempelajari sendiri. Supaya kata yang sudah kuperbaiki tak lagi berwarna kuning. Aku tidak mau kena penalti juga, kan. Jadi sebisa mungkin, saat waktunya memperbaiki naskah, aku serius banget merevisinya. Aku juga tidak mau kalau sampai kontraknya dibatalkan. Sudah mendapatkannya dengan susah payah, masa iya dilepas begitu saja. Apalagi ini kontrak dengan penerbit mayor. Kesempatan emas, dong! Mimpiku sejak lama.

Baca ini ya : Asyiknya Ngedit Naskah Orang Lain

Jujur. Ada perasaan kesal, khawatir, juga was-was. Belum pernah aku berhadapan dengan editor yang mengurusi naskah. Biasanya saat menulis untuk antologi tidak semua meminta revisi ulang. Jadi berasa seperti orang yang sedang menghadapi duel maut. Jika tidak berhati-hati, bisa-bisa nyawa lepas di tangan lawan. Lebay, ya? Hahaha.

Ketika akhirnya bisa juga menyiasati dan memahami pola kerja pengeditan, baru aku bisa bernapas lega. Naskahku kembali bersih dan cantik. Tak ada penalti denda uang. Tak ada pembatalan kotrak. Ketika aku bisa menyelesaikan revisi naskah sebelum tenggat waktu yang diberikan usai. Masa horor yang mencekam pun berlalu. Fiuhh. Alhamdulillah.

Aku dulu benci pengeditan. Iya! Teramat benci! Apalagi teori dan aturannya cukup membuat kepala pening. Tetapi sejak mengalami hal horor tersebut. Belajar dari dua naskah buku yang akhirnya terbit, aku merasa banyak sekali mendapat pelajaran berharga.

Menjadikan tulisan kita menjadi tulisan yang ramah editor itu memang luar biasa tidak mudah. Tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan dengan tingkat keberhasilan 100%. Setelah buku terbit, tetap saja ada sedikit typo yang ternyata luput dari pengawasan mataku dan (mungkin juga) pengawasan mata editorku. Mungkin masih bisa dimaklumi, ya? Jika tingkat kesempurnaan pekerjaan sudah mencapai sekitar 90% lebih.

Berangkat dari pengalaman itu, aku jadi berubah pikiran. Pekerjaan mengedit yang dulu terasa menjadi sebuah beban, sejak saat itu justru membuatku bersemangat untuk bisa mempelajari dan menguasainya. Dikritik, diprotes, itu menjadi makanan sehari-hariku ketika masuk dalam ajang diskusi membahas pengeditan bersama penulis-penulis lainnya di beberapa komunitas. Ternyata urusan bahasa baku, bisa jadi hal perdebatan yang cukup alot. Terutama jika masing-masing pihak mengklaim memiliki referensi yang kuat sebagai pendukung argumennya. Kadang tidak kutemukan dalam buku PUEBI apa yang mereka perdebatkan. Karena masanya zaman keemasan daring, maka orang lebih memanfaatkan aplikasi online. Yang bikin pusing itu ketika semua sumber yang ditampilkan memiliki penafsiran yang berbeda-beda.

Baca, yuk? Kenapa Nggak Ber-Skill Editing

By the way, memiliki kemampuan self editing itu faktanya memang akan benar-benar berguna saat kita diharuskan mengedit tulisan sendiri. Aku juga percaya jika tulisanku berantakan, sekalipun isinya bagus, pasti takkan diloloskan oleh penerbit berskala mayor nasional. Sebab naskah buku yang harus disunting para editornya itu banyak. Tak hanya puluhan, bahkan mungkin ribuan. Jika dulu saat remaja, kudengar sebuah penerbitan akan memberitahu sebuah buku lolos atau tidaknya untuk lanjut diterbitkan itu 6 bulan terhitung setelah kita memasukkan naskah dan 3 bulan kemudian terbit. Sementara sekarang, kadang butuh waktu 6-8 bulan untuk mendapatkan kepastian apakah naskah kita di acc atau tidak. Lalu butuh waktu 2-3 tahun untuk sampai terbit. Sebuah perjalanan dan penantian yang cukup lama.

Jika anggapan sebagian penulis bahwa jika bukunya sudah terbit mayor artinya prestise dirinya naik, bisa dianggap senior, berhak dipuji dan dipuja, maka buatku bisa menerbitkan buku mayor itu sebuah tanggung jawab besar. Kita harus semakin waspada dan berhati-hati saat mengerjakan dan mengoreksi naskah. Baik naskah sendiri maupun orang lain. Nama baik dan karir kita yang menjadi taruhannya.

Jadi, sudah atau belum pernah tembus penerbit mayor, jangan dijadikan tolak ukur kita sudah sukses dunia akhirat dalam dunia kepenulisan. Tetap yang jadi tolak ukur keberhasilan adalah ketika kita tetap mengerahkan segenap daya upaya diri, semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik. Mau untuk proyekan nulis di indie ataupun mayor. Konsisten menjadikan naskah kita naskah yang ramah editor. Sebab konsisten itu yang seringkali sulit. Jangan salah, keberhasilan lebih sering melenakan dan membuat terlupa, daripada membuat kita tetap waspada.

Salam literasi.

***

29 Agustus 2020

Editor: DLZ’s crew

Gambar: Canva

dailyliteracyzone.com/rheailhamnurjanah

2 comments on “TULISAN RAMAH EDITOR

Winda Damayanti Rengganis

Tulisan yang keren, Mbak ….

Reply
DLZ Admin

Terima kasih. Semoga bermanfaat, Mbak 🤗😇

Reply

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: