Monday, 13 July, 2020

Daily Literacy zone

Viralkan!


Viralkan!

(Penulis : Ir. Neni Utami Adiningsih, MT)

VIRALKAN! Demikian kata terakhir yang tertera di sebuah flyer yang diunggah di salah satu grup chat saya, pagi ini. Dengan ukuran tulisan lebih besar, ditebalkan, warna merah, ditambah deretan tanda seru serta beberapa gambar provokatif, tentu saja kata tersebut menjadi titik pusat cermatan. Dan memang itulah tujuannya, menarik perhatian, dan dukungan. Pertanyaannya, bagaimana kalau dibalik ajakan tersebut terdapat agenda tertentu, yang berdampak buruk bagi masyarakat?

Tanpa disadari, saat ini sebagian besar dari kita sudah berlaku laiknya jurnalis yang menggali atau mencari informasi dari nara sumber atau peristiwa kemudian menyebarkannya. Di saat yang sama, juga bertindak sebagai penulis, yang menganalisa dan mengungkapkan opini secara subyektif. Bila dulu, dapat dengan mudah membedakan antara profesi jurnalis dengan penulis, tidak demikian saat ini. Gabungan antara keduanya memunculkan jurnalisme warga (citizen journalism). “Profesi” keren yang kian ingin dilakukan oleh siapapun.

Tragedi tsunami di Aceh (2004) menjadi salah satu pemicu munculnya jurnalisme warga. Ketika itu, para korban tsunami, meliput sendiri kejadian dahsyat yang meluluhlantakkan Aceh. Bahkan beberapa liputan mampu menarik atensi melebihi karya jurnalis profesional.

Saat ini, para jurnalis warga memanfaatkan media jurnalistik yang ada, baik yang mainstream maupun lokal melalui ruang berbagi pendapat. Mereka juga memanfaatkan citizen media dan sosial media seperti grup chat, blog, media sosial blog, situs pertemanan, situs berbagi foto, hingga situs berbagi video. Jenis media ini menjadi mainan baru yang menarik semua kalangan. Terlebih dengan karakteristiknya yang murah, cepat, mudah diakses, memberi ruang berpendapat, anti mainstream dan cenderung suka-suka. Tidak aneh bila di Indonesia, setidaknya ada 43.000 media online. Namun hanya 234 media online yang terdaftar di Dewan Pers.

Perkembangan teknologi yang memudahkan memperoleh dan menyebarkan informasi dalam bentuk teks, foto, audio dan video kian menggugah kiprah para jurnalis warga. Semua bentuk jurnalistik dapat diangkat. Dapat berupa reportase, ulasan, opini, karya sastra, kisah nyata, tips hingga tutorial. Tidak aneh bila anak kecil pun juga bisa menjadi jurnalis warga.

Aktivitas para jurnalis warga tersebut, seiring dengan pemahaman fungsi pers versi Harold D.Lasswell dan Charles R. Wright. Menurut mereka, pers mempunyai fungsi sebagai alat pengamat sosial (social surveillance), alat sosialisasi (socialization) dan sebagai alat korelasi sosial (social correlation).

Dengan semua kemudahan, terlebih tidak ada aturan baku, apakah berarti semua pelaku jurnalisme warga menjadi boleh membuat, memberitakan, dan menyebarkan segala informasi hanya berpatokan pada kebenaran dan kepantasan subyektif dirinya? Tentu saja tidak. Lalu apa yang menjadi rambu-rambu pembatasnya? Etika.

Etika yang disepakati antara lain tidak menyebarkan berita bohong, tidak mencemarkan nama baik, tidak memicu konflik SARA, tidak menyebarkan pornografi serta menyebutkan sumber berita dengan jelas. Namun nyatanya, banyak yang melanggarnya.

Mesin AIS, mesin pengais (crawling) konten negatif milik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang dipasang di akhir tahun 2018 setidaknya sudah menemukan 1.731 hoax hanya untuk rentang Agustus 2017-April 2019. Data Kominfo juga menyebutkan bila terhitung 2012 – 2018, ada 1.531.947 konten di situs dan media sosial yang telah diblokir Kominfo. Antara lain 78.698 konten perjudian, 5.889 konten penipuan, ratusan ribu situs penyebar berita palsu dan ujaran kebencian. Yang terbanyak konten pornografi atau pornoaksi yaitu 898.108 konten. Inilah salah satu dampak dari kekurangan jurnalis warga, selain isi beritanya yang cenderung subyektif.

Saat ini, secara eksplisit, rambu etika ini masih mengacu pada Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) karena belum ada undang-undang yang secara khusus mengatur tentang jurnalisme warga. Dengan begitu banyaknya pelanggaran etika jurnalistik jelas bila kondisi ini mesti segera disikapi. Caranya, dengan membuat semua orang menjadi berkepentingan untuk menyikapi karya jurnalis yang diunggah.

Perlu selalu dipahami bila segala hal yang diunggah ke platform media apapun, akan bersifat publik, sehingga mesti dipertanggungjawabkan kepada publik. Publik juga yang akan menjadi “polisi” nya.

Beberapa media sosial pernah dilaporkan oleh publik karena mengandung konten negatif antara lain twitter 531.304 konten, facebook dan Instagram 11.740 konten. Sedangkan jumlah pelaporan terhadap konten youtube dan google 3.287 kali, situs file sharing 532 kali, aplikasi layanan pesan 614 kali, LINE 19 kali dan aplikasi BBM 10 kali.

Jadi, mari menjadi jurnalis warga yang profesional, terus mengasah keahlian jurnalistik, meningkatkan kualitas unggahan, mematuhi rambu-rambu hukum dan etika yang ada. Mari kita jaga jari kita. Berani bertanggung jawab atas semua unggahan. Jangan sekedar mengatakan “VIRALKAN!”


Referensi
https://id.wikipedia.org/Jurnalisme_warga
https://kominfo.go.id/
https://nasional.kompas.com/
https://www.cnnindonesia.com/

dailyliteracyzone/irneniutamiadiningsihmt

0 comments on “Viralkan!

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: